Cerita Sex 2017 Ngentot Mbok Inem Tukang Urut

Cerita Sex 2017 Ngentot Mbok Inem Tukang Urut

Posted on

Cerita Sex 2017 Ngentot Mbok Inem Tukang Urut

Cerita Sex 2017 Ngentot Mbok Inem Tukang Urut Ini Semua Kisah Nyata, Semuanya berawal saat saya ingin dipijat karena saya lelah. “Pak bisa minta tolong panggil Mbok Inem si pelakunya? Tubuhku agak sakit dan mau mriang nih” kataku dengan tolong. 7.20 – pintu depan diketok orang dan buru-buru keluar, datanglah Pak Hartoyo datang dengan seorang wanita muda yang cukup cakep cakep orangnya, membuatku tertegun. “Mas Andi, ini anak Mbok Inem, saya terpaksa mengambilnya karena ibunya sudah pulang ke rumah selama beberapa hari, tapi dia bisa melakukannya meski adik lelakinya,” kata Hartoyo cepat sebelum saya bertanya dan menggerutu karena itu tidak sesuai dengan pesanan saya

“Ya sudah langsung aja aja” kataku ajakan.
“Saya kembali dulu kepungan Mas” perpisahan pak Hartoyo.
Sepisi Pak Hartoyo langsung tanpa banyak bicara aku masuk ke kamarku dan putra Mbok Inem segera menyusul dari belakang.
“Siapa namamu?” Tanyaku, memecahkan kesunyian.
“Meiti Mas” katanya singkat.
Hot Photo Massage Plus Plus

Sampai di kamar aku langsung membuka kemeja, dengan dada telanjang seperti biasa jika disortir sama Mbok Inem, tapi biasanya aku buka sarungnya langsung dengan celana PANTS IN saja, kali ini aku membiarkan sarung tangan tetep menempel di posisi tengsin sama dengan cewek muda. .
“Pijat creamnya ada di meja belajar” kataku sambil terbaring di atas perutnya.

Tangannya mulai memegangi telapak tanganku, terus berciuman, memijat seperti yang dia lakukan, persis seperti yang dilakukan ibunya padaku. Mbok Inem sudah berlangganan keluarga Bang Johnny, jadi saya sering melakukan hal yang sama dengan dia. Tapi meski menurutnya sama, tapi rasanya berbeda, tangan ini lebih halus dan hangat.

“Permisi Mas” dia memotong sajak baruku yang baru ditemukan, menunjukkan sarunganku lebih tinggi ke pangkal pahaku. Urutannya sudah sampai di paha, sesekali agak tinggi menyentuh pangkal bokongku, sedikit ke tengah, seerrrrr, nampaknya di sana Greng, aku juga terus memejamkan mata sembari menikmati pijatan dan membaygkan kalau keadaan memang diinginkan. .

“Ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo pada saat ia menarik bagian belakang lutut saya, dia sekarang menyusut lagi ada. Nah kalau saya berpikir begitu, maka saya dirancang lebih dari pilot project ini.

“Jangan dipilah, sakit hanya memesan krim” kataku sambil tidak lupa sakit. Dia meraih krim itu dan mulai memijatnya dengan serius di sana. Cukup lama dia memijatnya disana dan sekarang mulai menyebar lagi, paha, betis, sampai telapak kaki, pas kembali ke paha dan kali ini agak terlalu dalem, saya langsung berteriak tertahan, seolah menabrak rasa sakit lagi.

“Mananya Mas?” Dia bertanya.

“Agak daleman sedikit” kataku sambil memegang tangannya dan membimbing dalam posisi yang kuinginkan, letaknya tepat di tengah pahanya pas jadi kalau dipesan sesuai urutan buah zakatku, aku sengaja diarahkan ke depanan, biar pas, lama dia disana.

“Cinta krim donk” kataku, saat dia mengambil krim,

Salah satu tangan saya dengan cepat menemukan TRAIN IN ME sehingga cangkang saya keluar dari PANTS IN dan gratis, betul juga saat tangannya diolesi crean sudah langsung ke buah zakarku, agar mangak zakel saya leluasa dan lebih mudah disortir,

“Ati-ati tidak memukul celananya, akan mendapatkan semua krimnya” kataku sambil pura-pura bingung jika memeluk krim saat dia mauku maka dia membuka PANTS IN ME yang lebih lebar, dengan tangannya, beberapa kemudian dia berkata

Cerita Sex 2017 Ngentot Mbok Inem Tukang Urut

“Maaf Mas, PELAMA DI itu dibuka aja, karena akan krem, saya sudah coba hindari tapi susah, Masnya pake aja.” Katanya, mengejutkan saya, kaget dengan gag dia bilang begitu.

Aku berdiri dan melepaskan celanaku, kembali ke posisi semula di perutku, lalu Meiti mendorong sarung tanganku, sampai ke bokongnya, aku memegangi posisi nungingku sehingga bidang yang lebih luas yang bisa dijangkau Meiti.

Ini juga sudah lama dia pijatkan, meemas bjiku, sampai saya sendiri sudah sangat gag gag gag konak kok.

Penumpang Birahi Young.

“Agak Kecil Bawahan,” aku memohon, dia berjalan semakin lama sampai pangkal genggamanku digenggam, dia menyortir dengan agak sulit karena dari pangkal pegangan sampai setengah menyortir semuanya,

“Mas kalau bisa balik, karena susah gini,” dia memohon, saya senang taat.

Aku berbalik dan bajuku masih tertutup sarung, dengan jangkauannya lagi memegang posisi yang sama.

Agar, sepertinya aku seperti setengah jalan, tapi tap Meitin nampaknya berpikir lagi, dengan matanya memandang sekeliling ruangan, berlama-lama, aku goygkan pinggul kecil sehingga tangannya tergelincir, ternyata berhasil, dia lebih ngurut. Pangkal pahaku, tiga empat menit berlalu ia tampak gag sadar, tapi untuk waktu yang lama aku merasa dia tidak berbohong atau ngurut, tapi benar-benar mengguncang pangkal pahaku, meski tidak digenggam, tapi cukup mantap,

Saya sengaja bergerak dengan sedikit menarik posisi sarungnya, sehingga bisa dilihat sekarang tangannya mengocok pangkal paha, merasa tangannya tidak lagi tertutup sarung, dia melihat posisi tangannya dan sepertinya seolah-olah sadar dia melihat apa yang telah dia lakukan selama beberapa menit, tidak berhenti, matanya mulai ngelirik ke saya.

Dan tanpa ekspresi, dia terus mengocok, kali ini tangannya lebih menggenggam, jadi saya memastikan dia disengaja, jadi dengan sedikit ragu, saya taruh di bahunya, saat dia menyeret tadi, berlutut di samping tempat tidur jadi jika saya meletakkannya. Tanganku ke sisi jatuh di pundaknya dan aku langsung meluncur turun ke dadanya dan dia tidak mengatakan apa-apa.

Penumpang Birahi Young.

Aku meremas dadanya, jadi aksi terjepit dan goyang terus berlanjut selama beberapa menit, sampai tiba-tiba kepalanya tertunduk nampaknya tanpa dasar yang luar biasa dia mencium ember saya, dilanjutkan dengan mengulumnya. Dia menyadari bahwa dia dan saya sama-sama menguasai nafsu, maka tanpa perlu meminta izin lebih jauh, saya mencoba membuka kemeja atas, malah dia mambantunya, jadi buka dadanya,

Branya membuatnya lepas dan dadanya yang besar dimiringkan ke mulutku, langsung aja aku sucap pentilnya,. wow, hangat,. Kepalanya tertumpu di pundakku, jadi kami setengah berjuang karena kakinya masih turun, kami berciuman hangat, lalu aku bangkit dan mengangkatnya ke tempat tidur.

“Kamu pikir lebih baik dari ibumu ya” kataku hebat, setelah tahu dia suka itu.

“Gag tau Mas, sudah kebawa.” Dia tidak melanjutkan kata-katanya.

Aku asyik berciuman di balik telinga, di samping leher, sesekali menghela napas hangat ke telinganya. Dia sudah terlihat bingung dengan desahan dan erangan yang semakin membuat saya di langit, saya dijahit dan dimiringkan tubuhnya, kaki kirinya saya pasang di bahu kanan saya, dengan posisi agak miring sehingga saya menggesek ember saya di gerbang rumahnya. kokang.

Beberapa saat saya menggesek dia mulai mengerang pelan, lalu saya dagu paha di gerbang alat kelamin, yang jelas sangat lembab dan agak basah, saya coba tekan, wah, seberapa sempit, tapi beberapa kali coba, Akirnya berhasil sampai. Mencapai setengah tubuh saraf pubis di lorong kegelapan, nampaknya agak kering, pahamilah tumitnya sedikit kurus, tanda kalu tendanya mengering, Erangannya meski perlahan tak henti-hentinya yang lalu, menambahkan suasana hangat, tetap aja. goyg sampai cukup lama sebelum akhirnya saya minta pindah posisi.

Kini kedua kaki saya disematkan di kedua sisi bahu saya, ayunan semakin ganas karena posisi yang lebih liberal, dan gang gelap lebih licin, nampaknya dia sudah beberapa kali mengeluarkan pelumas, meski bukan orgasme,

“Anda sekarang nungging” perintah saya.

Ketika Meiti nungging, saya menekan bahunya ke kasur dan sisa pantatnya nungging, dengan gerakan sedikit rubah, saya mengembalikan alat kelamin saya kembali, kali ini lebih sensasional, saya memegang pinggulnya cukup besar, dan mengayunkan lagi. Dengan bebas dikendalikan, beberapa kali hampir terlepas,

Tapi karena ukuran Hammer saya maka agak sulit juga untuk benar-benar habis, lelah dengan gaya nungging, saya berbaring dan saya perintahkan dia mengendarai saya, dia membelakangi saya, pada saat jatuhnya Dorot saya kali ini disertai dengan nafasnya yang tertahan, kali ini menempel abis.

Meiti berhenti sejenak sambil merenungkan perasaan-perasaan yang lezat itu. Saya mulai berinisiatif menggoyg, lalu Meitipun bergabung bergoyg,. Kali ini bundar yang melingkar, sangat bagus, yang saya rasakan, lubangnya sempit, hangat, dan cenderung kering,

Setiap kali dia berputar pinggul saya merasa ada sesuatu nabrak kepala kemaluanku, pasti macet dan dia harus muntah akan lama mencapai titik orgasme begitu pikirnya. Yakin benar dugaan saya, Meiti terlihat kejang keras sambil mengucapkan kata-kata yang tidak jelas apa Artinya, cukup lama juga seperti itu.

“Aaaa.duuuuuuu..uuuuhhh Mas .. lemes kakiku terasa .. aku gag kuat lagi gerak ..” katanya.

Aku mencoba bangkit dan memadamkannya, lalu aku memukul lubang lebih kencang, sampai panas terasa mengerang, dan akhirnya aku hampir tidak bisa menahan diri. Lalu aku menarik keluar dan memberi tahu Meiti

“Meiti, kamu menghadap ke sini, buka mulutmu” dan rupanya Meiti mengerti apa yang kuinginkan, dia dengan lembut berbalik dan membuka mulutnya.

Karena aku takut tidak, aku segera menaruh pangkal pahaku di mulut mungilnya dan aku berjalan mondar-mandir, beberapa kali dan keluar, creeetttt … creeeee.tttt … creettt … aku jatuh lelah, disampingnya ,

“Meiti, ada apa?” Aku memecahkan kesunyian.

“Mas begitu bagus, sampai lemes kakiku, sudah gag tau berapa kali keluar” jawab Meiti sambil malas di pelukanku.

Dan kami juga berlama-lama menunggu bosan dengan bantuan terakhir. Sampai saat aku bangun merasakan pahaku kanan sesuatu yang merayap, aku mencoba meski malas, ‘tuk buka mataku dan, beneran melebar, saat tahu apa yang menyentuh pahaku.

Dia adalah Deanny, saudara ipar kakak laki-laki saya, Johnny, saya pikir dia berada di rumah temannya, dan yang lebih mengejutkan lagi, dia melihat saya memeluk seorang gadis dan telanjang bersama.

“Andi, kamu gila ya, beraninya kamu muntah seseorang masuk cewek, kataku di Bang John” katanya dengan melirik melotot.

“Hei, Dekan, dengarkan aku dulu” kataku saat aku bangkit dari tidurku. Meiti terbangun mendengar suara orang lain di dalam ruangan, dia mencoba meraih kain untuk menutupi tubuhnya yang telanjang sambil bertanya.

“Siapa dia? ”

“Ini Deanny, saudara ipar kakak saya” jawabku singkat.

“Jangan jadi donk, loe gag ama kompak saya” jawab saya mauhon pengertiannya.

“Ya, saya bisa mengatakan bahwa abang saya Abang membiarkan saya melihat kalian berdua bermain sekali lagi, bagaimana?” Dia bertanya.

Ach ni nak pikir aku pasti gampang dech kalo gini, di ntar olok-olok dia pasti muntah nahan nafsunya sendiri, jadi pikir aku.

“Mas malu aku tidak bisa” aku bangun untuk mencium Meiti.

“Jangan taruh rem di atasnya dan anggap kita berdua di ruangan ini” kataku menenangkan.

Dan aku mulai merangsang Meiti dengan ciuman lembut, sementara tanganku mencoba merasakan bagian-bagian yang sensitif, beberapa saat berlalu Meiti mulai terbawa arus, dan itu terasa halus, aku merasakan tangan Deanny mencoba meraih peganganku dan mengulurkannya. , sesekali mengocoknya sampai siap untuk tempur.

Setelah semuanya sudah siap, saya mulai menyesuaikan diri dengan Meiti pada sesi kedua, ketika kerah saya tumbuh, Meiti dan Deannypun sepertinya menahan napas, rupanya Deanny telah larut saat melihat matanya.

Permainan saya dengan Meiti berlangsung beberapa gaya, dan tanpa sempat ditunjukkan pada 9:47, maka Deanny telanjang di samping tubuh Meiti yang saya tumpang tindih, lalu tangan kiri saya mulai gerilya ke dada Deanny, wah bagus, saya memutar putingnya dan dia mengerang.

Saat aku terus memanjat Meiti, aku juga mencium bibir Deanny dan singkatnya, pinggangku melenyapkanku dari Meiti sementara pinggangku menyerang Deanny. Mereka berdua mengerang gembira malam itu, semakin keras erangan mereka berdua meneriakkan semakin banyak nafsu yang saya buat, yang terakhir tidak cukup kuat untuk menahan gejolak, saya semakin keras Meiti dan dia juga mengerang lama saat kram memeluk saya.

Saat itu kami juga memiliki orgasme yang sama sementara Deanny masih belum mencapai meski nyaris, omelan kami sama-sama membakar nafsu, segera Deanny menyuruhku mengisap mem3knya keluar, perintahnya.

Saya langsung memutar tubuh saya untuk mencapai lubang Deanny yang sudah sangat basah tadi. Tapi omong kosongku masih tertanam di Meiti. Aku menggunakan lidahku di gua vertikal dan kadang pada tombol di atas lubang sampai Deanny menegang karena kejangnya dan,. lesu puas

Lima sepuluh menit kita masih berbaring tumpang tindih sampai aku bangun dan mencuci peralatan, lalu aku mengenakan pakaianku dan menepis sebatang rokok saat dia pergi ke jalan, mencari Pak Hartoyo.

“Tuan, anaknya Mbok Inem gag harus menunggu rumahnya, dan tolong beritahu dia rumahnya kalau dia ngag rumah karena bilang Deemen nemenin” alasan saya sengaja saya tidak menyebut nama Meiti untuk kesan masih asing bagiku.

Setelah itu saya kembali ke rumah dan mencuci kaki saya dan kemudian bergabung dengan bobok bertiga, ntar malem coba saya geraygi Deanny ach, kali aja dapet nyobain rasa, akan menyenangkan dan berarti juga di rumah ini ada beberapa stok lubang yang bisa digunakan. bergantian, khan asyik kalau tidak perlu menunggu lama.

Recent search terms:

  • cerita memek mbok nem tukang pijat