Cerita Sex 2017 Ngentot Mbak Indriani

Cerita Sex 2017 Ngentot Mbak Indriani

Posted on

Cerita Sex 2017 Ngentot Mbak Indriani

cerita sex terbaru, cerita sex selingkuh, pengalaman sex, cerita sex hot, cerita nakal Nama saya Bagus Hermanto. Sekarang saya berumur 25 tahun. Saya tahu seks sejak usia 18 tahun. Diajarkan oleh Mbak Wiwik Widayanti, mahasiswa S2 yang menaiki rumah saya, di Yogya. Tentu berangsur-angsur, dari genggaman sampai …, kenal sendiri. Pokoknya butuh waktu hingga 2 bulan untuk sekedar merasakan tang seks yang sebenarnya, bersetubuh dengan Mbak Wiwik. Setelah itu saya mencoba segala jenis wanita, mulai dari pelacur hingga wanita yang baik. Saya rasa saya punya banyak pengalaman. Sudah mengerti semuanya. Saya tidak pernah merasa kenyang, itu hanya masalah saya.

Semua keyakinan itu akhirnya berubah saat aku menikmati Mbak Indriani, seorang akuntan tunggal dari sebuah kota di Jawa Tengah yang pernah menjadi bosku di tempat kerjaku di Jakarta. Mbak In, tidak secantik bintang sabun. Umurnya 42 tahun. Kulitnya yang hitam manis, tingginya sekitar 160 cm, memiliki bentuk tubuh langsing dan memiliki payudara yang kecil namun indah menantang. Dulu kolega saya di kantor, termasuk wanita, diam-diam menyebut dia sebagai “kulkas”. Karena dingin, pasif dan tidak panas. Pokoknya dia tidak ada dalam daftar selera saya.

Tapi suatu hari di akhir tahun 1999, saya bertemu dengannya lagi. Karena pemogokan katak VW saya di dekat rumahnya, sebuah paviliun di Kebayoran Baru. Sudah hujan begitu lama. Aku menelepon taksi Blue Bird tapi tidak datang. “Ya, tunggu saja aja, sambil ngobrol karena sudah lama kita tidak ketemu”, katanya. Awalnya kami ngomong santai. Taksi yang saya pesan belum sampai. Dan sudah jam 9 malam. Mbak In menawari saya tidur di rumahnya sendiri, di sofa ruang tamu. Saya juga setuju dengan tawaran itu, bukan mengganggu, pikir saya.

Lalu ngobrol ngalor-ngidul. Setelah makan malam kami masih membicarakan banyak hal. Sampai akhirnya saya santy nanya, “Kok Mbak tetep satu neraka?”.
Dia juga mengatakan kepada saya bahwa dia malas untuk menikah karena dia masih menyukai dirinya sendiri dan bebas. Buktinya dia bisa hidup tanpa pembantu. Semua dia lakukan sendiri. Kecuali pakaian tertentu dilaundry.
“Baiklah semua swalayan,” kataku.
“Termasuk pertanyaan khusus tertentu juga,” katanya sambil tertawa.
Saya juga terkejut. Dia berarti seks. Karena dia tahu dia tidak pernah membicarakan seks, jadi dia dijuluki kulkas.

Pukul 11 ​​saya mulai mengantuk. Mbak In meminjamkan saya celana dalam dan kaos (keduanya baru, ukuran XL, oleh karena itu benar-benar souvenir dari Bali untuk teman mereka), dan memberi sikat gigi dan handuk baru, lalu dia masuk ke kamarnya sendiri.
“Istirahat yang baik Jika Anda butuh kekasih tidur terus di TV, tapi jangan ribut, kalau mau baca dan baca aja aja, Gus”, katanya.
“Terima kasih Mbak, selamat malam”, kataku.
Setelah mandi, saya sendirian di ruang tamu. Kebiasaan saya untuk tidur pasti disertai dengan musik, CD atau radio, terkadang TV. Lalu aku mengatur penghitung waktu sekitar satu jam sampai akhirnya aku tertidur. Tapi malam itu saya sulit tidur. Mau baca tapi mataku lelah. Akhirnya saya menyalakan TV, tapi acaranya jelek.
Akhirnya saya senang bisa mendekati rak audio-video. Aku memeriksa bahwa CD player berisi tiga buah. Karena redup saya tidak tahu itu CD audio atau VCD. Aku kembali ke sofa. Kompo remote control dan TV yang saya bawa. Setelah saya klik remote maka diketahui bahwa isi dari VCD tersebut. Lalu aku berbalik, lalu adegan pembuka.
Ups !, ternyata isi BF, Judul yang saya lupakan, tapi isi adegan klimaks, jadi bukan keseluruhan cerita. Menyenangkan juga …, ini berisi cuplikan dari banyak film. Seks oral pembuka pertama sampai air mani keluar. Saya belum tegang, tetap tenang. Adegan berikutnya sama, dan seterusnya, sampai adegan penis dimasukkan sampai dilepas saat air mani akan kaluar. Saya juga belum tegak, ini karena saya lelah dan mengantuk. Selain menonton VCD porno saya sudah banyak melakukan. Menjadi agak kebal juga.
Nah, bagian terakhir dari VCD juga sangat mengagumkan, sehingga membuat penisku menggeliat. Scene 69. Yang disorot bukan felatio (cewek suck guy), tapi cunnilingus (cowok mengisap cewek itu vagina). Saya mengalami ereksi menonton adegan, sehingga adegan disana yang saya ulangi sampai beberapa kali. Saya ingin menikmati sampai puas sebelum pria di layar TV adalah orgasme, sementara saya sendiri berharap bisa orgasme seiring dengan gambar di layar, karena saya membelai ayam saya sendiri. Aku melihat bagaimana pria itu melayani gadis itu. Bagus juga sampai si gadis menjerit.
Saat adegan berubah, gadis itu mengocok penis pria itu saat mengisap, tiba-tiba ada tawa kecil di belakangku. Saya kaget, malu dan tak tahu malu karena Mbak In berada di belakangku. Yang bisa saya lakukan hanyalah mematikan TV, bukan pemutar VCD. Lalu aku diam dan menunduk. Tapi Mbak In memegangi bahuku dan berkata, “Kamu juga menyukainya, tidak apa-apa aku sudah dewasa”.
Aku tersenyum, dan tidak berani menatap wajahnya.
“Gus”, dia berkata, “Kamu sudah sering juga, kan? Saya tahu kalau ada cewek di kantor kita dulu seseorang yang pernah kamu kencani …”.
Aku menatapnya. Mbak In rupanya hanya mengenakan lingerie satin putih tipis, rok pendek tanpa lengan dan celana bahan serta warna serupa.
“Kenapa tuh kolorm mu, kenapa ada yang berdiri?”.
Ah … aku semakin canggung. Aku tersipu, karena penisku masih tegak.
“Um …, saya …, saya …, saya …, Ma’am”, hanya itu yang bisa saya katakan, sementara saya bangkit dari posisi saya yang terbaring di sofa.
Lalu Mbak In duduk di sampingku. “Saya baru saja tertidur sebentar, tapi karena petir saya terbangun, dan tidak bisa tidur lagi”, katanya.
“Lalu aku dengar suara TV masih menyala, tapi suaranya kok ah .., uh .., ah .., uh aku buka pintunya dengan diam, kamu nggak tau ya?”.
“Ya Mbak”, kataku.
Kali ini aku tenang. Tidak heran aku tidak tahu dia berada di luar ruangan, pikirku. Karena ruangannya gelap, maka saat pintu dibuka tidak ada cahaya yang pecah.
“Saya melihatnya diam-diam, ternyata anda lebih asyik ngeliat ya ya. Saya melihatnya di adegan berikutnya anda ulangi adegan, dan tangan anda meraba-raba celana anda …”.
“Ya Mbak”, itu saja yang saya katakan.
“Ayo, mainkan lagi”, ajak dia.
“Tidak malu,” jawabku.
“Tidak apa-apa, Gus” katanya, lalu mengambil remote dari tanganku. TV menyala lagi. Lalu ia mengambil remote compo, dan memainkan CD kedua.
“Tuh liat”, katanya.
Judulnya adalah “Kamasutra Modern”. Isinya tidak garang. Segala macam soft …, tidak menutup penis di vagina, tidak menutup ejakulasi soal payudara.
Selama 15 menit kami menikmati CD dalam diam, sampai saat itu Mbak In berbisik, “Ajarin aku dong Gus. Saya tidak pernah”, katanya saat memelukku.
Aku hanya bergumam, “um …”.
“Kemarin semua pengetahuan dan pengalamanmu …, Gus …”.
“Kenapa tidak mbak?”.
“Yeah dong …, kamu ajari aku dong …”.
“Emang Mbak tidak berpengalaman?”.
“Sttttt …, kamu tidak tahu agak menulisnya, saya masih perawan, jadi sering disindir sebagai pembantu tua saya juga kenal julukan kulkas, Gus”, kali ini dia semakin dekat bersama.
“Ajarkan saya untuk tidak menjadi pembantu lama lagi Ajarin saya biarkan saya menjadi wanita yang komplit, tidak pernah merasakan kenikmatan pria tanpa harus suami dan tanpa punya anak, Gus …, ayo lajang tapi matang, jadi Gus”.
Saya diam tidak tahu harus berbuat apa, saya melihat layar TV. Ah …, pemandangannya indah dan gila pada saat bersamaan. Pada awalnya 69, dan memakai close up namun gambar tetap lembut, seperti menggunakan filter. Lalu pria itu memasukkan penisnya dari belakang. Lalu 69 lagi. Lalu gadis itu ada di atas. Sesaat dia melompat, duduk di depan pria itu, meminta dioral, lalu beristirahat di atas, duduk lagi, beristirahat di atas, duduk lagi, beristirahat lagi, berapa kali, sampai akhirnya orgasme. Saat pria itu berdiri, gadis itu mengisap dan mengocoknya. Aku benar-benar tegang, terangsang oleh adegan di layar.
“Ajari aku sayang tunjukkan toksisitasmu yang telah membuat cewek-cewek di kantor kita ketagihan …”. Tangannya memegang pipiku, “Please …”.
Entah kenapa aku terhipnotis. Aku memeluknya, mencium pipinya, lalu dahinya. “Ya Mbak, tapi saya lelah lagi, setelah main squash, jadi mungkin tidak memuaskan Mbak”.
“Saya tidak meminta apapun, baru diajarkan. Semacam apresiasi, gitulah …”.
“Ya Mbak, tapi VCD dan TV dimatiin ya”, kataku.
Mbak mencubit pipiku, lalu mencium pipiku. “Bisa…”.
“Mbak In pingin apa itu?”.
“Terserahlah, pokoknya kamu harus membimbing saya, mengajari saya … saya tidak tahu apakah malam ini akan melepaskan keperawanan saya, tapi jelas saya ingin mendapatkan pengalaman yang penting bagi seorang wanita yang berusia 40 tahun …”.
Saya tersentuh, kasihan. Wanita yang pendiam dan sejuk seperti kulkas ini menginginkan pengalaman erotis. Wanita yang tidak pernah berbicara kotor dan humor pornografi ini (tidak seperti cewek lain di kantornya) menginginkan sesuatu.
“Ayo Gus Ajari aku, membimbingku …, Cinta tahu apa yang seharusnya aku kau orang sungguhan Kau sudah memiliki banyak jam terbang Tunjukkan itu …”.
“Ya, Mbak”, kataku sambil mencium keningnya. Mbak menutup matanya. Saya merasa badannya hangat.
“Katakan apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan pengalaman pertama yang indah, Gus. Lengkapi diri saya sebagai wanita dewasa …”.
Aku mengangguk dan memeluknya, dan membelai rambut pendeknya yang sekarang dipotong. Saya merasa kedewasaan saya agak tertantang. Inilah keuntungan wanita. Masih perawanpun tahu cara menggerakkan hasrat pria.
TV sudah mati Aku berdiri, mendekati rak audio. Di dekatnya saya menemukan Romantic Night CD, musik instrumental yang lembut. Itulah yang saya balikkan. Lalu aku kembali ke sofa menuju Mbak In.
“Mbak”, bisikku.
“Um … beri aku pengalaman, Gus, aku saja, jangan mempermalukan aku, aku sudah mengatakan ini, aku tidak pernah meminta ini untuk menjadi laki-laki, aku memilihmu karena aku mempercayaimu, kamu adalah pegawai busuk, bukan seorang pembuat masalah, dan seorang pria Aku tahu Anda telah tidur dengan beberapa gadis di kantor kami, tapi Anda tidak pernah meludahi perselingkuhan Anda Mengapa saya bisa tahu, tahu betul …, sebagian besar kantor kami adalah anak perempuan, dalam 15 wanita hanya ada 1 orang “.
Saya merasa percaya diri. Aku memeluk Mbak In erat-erat.
“Apa yang harus saya lakukan, Gus ya, apa yang harus Anda lakukan? Mm, maksud saya apa yang akan Anda lakukan …, mm kok pake nanya. Harus tinggal dialan ya …, mm …, mm Gus .. . “, kali ini dia tampak bingung harus berkata apa. Aku mencium keningnya.
“Mbak pingin merasakan sesuatu yang indah? Mbak sendiri fantasi apaan sih?”.
“Banyak, tapi saya malu membicarakannya, terserah anda”, katanya sedikit bermanja. Anehnya, saya merasa senang dimanjakan oleh wanita yang lebih tua. Nah inilah keuntungan wanita, siapa yang bisa membuat pria merasa berharga dan dibutuhkan.
“Saya menarik Gus bukan?”.
Aku mengangguk. Lalu kubisiki, “Yang lebih menarik dan cantik jika sekarang Mbak pake lipstik dan sedikit parfum …”.
Dia segera berdiri, mencubit pipiku, lalu pergi ke kamar. Tak lama kemudian dia berteriak, “Ini Gus …”.
Aku masuk ke ruangan itu. Dia sedang duduk di meja rias. Aku memeluknya dari belakang. Bau harum bernada perlahan ke hidungku. Bibirnya diolesi lipstik. “Cakep Mbak”. Kataku
“Bener?”, Jawabnya manja.
Mbak In berdiri. Aku lalu duduk di belakangnya. Di depan cermin yang terang saya menemukan Mbak In dengan pesona feminin yang meningkat. Seorang wanita berusia 42 tahun. Ajaibnya, saya bisa tertarik malam ini. Lenganku melingkari pinggangnya dari belakang.
“Ini adalah apa yang istri-istri lakukan?”.
“Saya tidak tahu, saya belum menikah, dan tidak pernah bermain dengan istri seorang pria”.
Lalu aku bangkit, tetap di belakangnya, dan lenganku masih memeluk pinggangnya. Aku mencium pipinya dengan lembut dari belakang. Lalu bibirnya, lembut dan lembut, dengan gesekan mengambang.
“Saya tidak pernah mencium pria Gus,” bisiknya.
“Ouhh …”, teriaknya. Aku melihat ke cermin. Dia juga. Wajahnya memerah.
“Merem saja Mbak”, kataku. Dia dipatuhi Tanganku tetap di pinggangku. Aku melihat dari cermin, matanya terpejam. Lalu cium lehernya yang lembut.
“Ihh …”, itu hanya suaranya.
Lalu aku mencium telinganya. Ah iya …, inilah keuntungan wanita, meski dia adalah naluri perawan untuk mengetahui bagaimana memprovokasi nafsu lawan jenis. Bagian belakang telinganya sudah harum. Saya baik-baik saja. Lalu cium lehernya, telinga lagi, leher lagi, pipi, bibir, telinga, leher, dan akhirnya tengkuk.
Tangan kiriku masih memeluk pinggangku dari belakang. Tangan kanan saya naik ke pusar saya. Dari cermin aku melihat puting Mbak In mulai mengeras, lewat lingerie satin saat memakainya.
“Nah, itu yang dia katakan, Gus,” bisiknya.
Dari cermin yang terang saya melihat terbitnya kewanitannya. Saya tidak menyadari kulkas itu memikat. Pagutan ke bibir, leher, telinga dan leher mulai memancarkan. Tubuh Mbak In mulai bergetar. Dia tetap tutup. Perlahan seolah-olah saya sengaja menyentuh puting kirinya. “Uhh”, dia mendengus. Aku merasakan detak jantungnya naik. Lalu hidung dan mulutku mulai berciuman di bahunya yang terbuka, karena setelan lingerie atas hanya tergantung di tali. Dia membentang.
“Geli tapi enak, kamu pintar banget,” bisiknya sambil memejamkan mata.
Sekarang kedua tangan memegang tanganku. Matanya masih tertutup. Aku menatap wanita ini dari cermin yang menyala (hanya itu yang menyala di ruangan itu, karena lampu lainnya padam). Saya menemukan sesuatu yang telah, selama saya mengenalnya, saya tidak pernah menyadarinya. Sudah saya katakan, Mbak In bukanlah tipe yang masuk dalam daftar selera saya.
Sekarang aku menemukan sesuatu. Mbak In memang menarik, memiliki pesona feminin yang kuat. Kulitnya tidak putih tapi bersih. Tubuhnya ramping, tapi tidak bisa disebut kerempeng. Kurokanya masih terlihat dan terasa. Wajahnya bersih, tidak ada jejak biarawati. Matanya memanjang seperti boneka. Alisnya tebal merata. Bibirnya kecil. Aroma napasnya enak sekali.
Oh …, apa yang berubah bagiku? Kenapa saya bisa tiba-tiba menikmati dan menghargai pesona feminin Mbak In? Karena terangsang, pokoknya aku tegak? Tidak juga. Saya sudah bermain dengan wanita. Semuanya dimulai dengan daya tarik, terlepas apakah wanita itu cantik atau biasa-biasa saja. Yang pasti karena saya tahu Mbak Wiwik, yang mengambil keperawanan saya saat masih remaja, selera saya hanya tentang itu, wanita kulit putih, dengan payudara besar. Tapi Mbak In? Ah, saya tidak tahu. Saya merasa seperti sebuah pengalaman baru.
Tangan Mbak In masih memegang tanganku. Sekarang matanya terbuka. Dia tersenyum. Aku mencium bibirnya, lembut lalu pipinya, telinganya, bagian belakang lehernya.
“Apa sekarang, Gus?”, Bisiknya.
Aku melepaskan tangannya dan kemudian aku menuntunnya untuk mengembalikan tangan kanannya ke leherku, karena aku berdiri di belakangnya. Aku mencium lehernya … aku merasakan jantungnya berdegup kencang, dan napasnya yang mengeras terdengar …, seperti dia bernafas dengan mulutnya. Lalu aku berpaling ke bahunya yang terbuka. Aku mengangkat tangan kirinya untuk memegangi lehernya.
Saat saya melihat ke cermin, saya melihat sesuatu yang luar biasa. Mbak Di ketiak rambutnya sangat berat. Aku tersentak. Wow, seperti tidak percaya melihat bulu hitam lebat menghiasi bagian bawah lengannya. Aku mengangkat tangan kanannya. Sama lebat. Wow! Hebat! Aku belum pernah melihat ketiak seperti itu. Selain itu, saya tidak tertarik dengan ketiak berbulu, kotor dan tidak feminin. Tapi kali ini? Wuahh …, saya merasakan debaran di dada saya, saya merasakan aliran darah saya naik. Mengubah saya
Iya nih! Ketiak gemuk memikat. Hal yang membuat saya tidak nyaman adalah merangsang. Perlahan aku merasakan kedua ketiak itu.
“Jangan pernah mencukur ya Mbak?”, Mbak In menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
“Entah kenapa aku tidak terganggu, kamu kenal, dulu di asrama, saat masih kuliah, saya dijuluki Ratu Ketiak. Karena sejak tahun kedua kuliah saya tidak mencukurnya. Bagi saya ini adalah bukti kebebasan saya. , bukti ketidakpedulian saya terhadap apa yang orang lain anggap sesuai .. “.
Lalu aku mencium ketiak berbulu itu. Wow! Fantastis! Bau asli tubuh bersih menyergap hidung saya, karena wanita yang mengerti tentang parfum tidak pernah memberi parfum di ketiak, kecuali deodoran. Bau ketiak wanita (asal tidak terlalu keras), itulah yang saya suka tentang cewek yang pernah saya kencani. Kali ini bau alami tumbuh dengan rambut tebal, panjangnya hampir 5-6 cm. Itu harus disebut Ratu ketiak.
Dari ketiak kanan saya bergerak ke ketiak kiri saya. Aroma dan sensasi bulu sama dengan kanan. Aku sangat terangsang. Ukuran gairah bukan hanya tentang ereksi seberapa keras dan panjang, tapi juga ombak dalam. Sejak itu saya sudah ereksi, tapi sekarang semakin menambah nafsu. (Baik anak-anak, mengerti itu …)
Dengan hidung dan mulut di ketiak kirinya, kedua tanganku menyentuh kedua puting susu. Sangat keras. Dengan lembut aku memegangi payudaranya yang kecil. Sangat sangat. Ini adalah sensasi baru bagi saya, karena saya tidak pernah tertarik dengan payudara kecil. Saya tidak bisa tegak dengan payudara kecil. Saat berkencan dengan wanita, saya selalu memilih yang memiliki payudara besar, ukuran 34 dan di atas (beberapa kali saya bisa ukuran 38C). Payudara Mbak In nampaknya di bawah 34. Tapi kenapa merangsangnya? Nafsu saya terbakar. Seperti bendera, mulailah berkibar. Hanya karena rambut ketiak dan payudara kecil (hal yang belum pernah terjadi).
Akhirnya pakaian dalam lingerie yang saya lepas landas. Dan wow! Saya menemukan payudara kecil yang ketat, dengan puting susu yang mengeras. Putingnya gelap, tapi sangat menstimulasi saya. Saya sudah berkencan dengan wanita kulit putih, termasuk bule, jadi putingnya cerah, jika putihnya kemerahan.
Dengan perlahan aku menurunkan payudaranya. Mbak In hanya ah-uh-ah-uh. Aku mencium leher, leher, telinganya, bahu, dan ketiaknya, memuntir puting dan payudaranya.
Lalu aku duduk di kursi dekat meja rias. Aku mencium puting dan payudaranya, lalu aku mencium putingnya sehingga mengeras. Kudengar pinggul Mbak In berkibar, tanda kontraksi otot saat wanita mulai membakar nafsu.

Cerita Sex 2017 Ngentot Mbak Indriani

“Mbak, saya terangsang. Saya suka ketek dan bulu Mbak, payudara dan puting susu Mbak ..”.
Mbak In tersenyum. “Ajarin saya lagi sesuatu yang baru”, katanya.
Aku melihat tubuh ketat yang sekarang hidup dalam gaun satin tipis. Baru saat itulah aku menyadari bahwa di bawah pusarnya ada segitiga yang gelap. Itu pasti bulu vagina. Aneh, saya penasaran, ingin segera melihatnya. Dan selama ini saya tidak suka melihat vagina bulu yang tebal. Pernah waktu di pajit pembibitan jadi longgar karena gadis itu memiliki vagina bulu tebal. Gadis panti pijat itu tersinggung, karena nafsu saya menjadi merosot karena vaginanya yang tebal. Akhirnya saya hanya meminta tukang pijat untuk mengguncang penisku, sementara saya membayangkan salah satu cewek saya yang bulu kurusnya super tipis, sampai saya ejakulasi di payudara tukang pijat.
Saya khawatir dengan bulu-bulu itu. Menurut saya kotor, tidak sehat, hanya menimbulkan bau dan penyakit. Tapi kali ini sangat ingin tahu, Mbak In rupanya tahu.
“Apakah Anda ingin melihat hal lain? Bisa ..”.
Aku menggelengkan kepala. Dia mengerutkan kening. Aku tersenyum, “Entar Mbak ..”.
Yang saya lakukan sekarang adalah mencium pusarnya dan turun ke bawah, tanpa membuka celana dalamnya lingerienya, sampai aku merasakan satin satin tebal dan hidungnya.
Setelah itu saya memasukkan jari saya ke celananya. Aku merasakan ketebalan vaginanya yang tebal. Jari saya buta sesaat, tidak tahu ke mana harus meraba-raba klitoris dan labia mayora.
Oh, jadi inilah pesona bulu vagina yang tebal, bisa menyembunyikan vulva. Gadis-gadis yang saya kencani kurus itu kurus, bahkan hanya ada beberapa lembar saja, sehingga hanya sedikit mengangkang, vulva pun langsung terlihat. Dan itulah yang saya suka. Itulah yang membuat saya tegak. Bau khas vaginanya juga mulai menyergap hidung saya. Aku mulai terangsang.
Akhirnya jari saya mulai mengenal medan. Kenali klitoris mana, yaitu labia majora, yang merupakan labia minora. Lebih dari itu, jemariku basah kuyup, seolah baru terendam dalam mangkuk. Pakaian dalam basah, jadi menempel lebih dekat ke vulva, dan bulu yang lebat terlihat. Hip Mbak In terus berkeletekan, kontraksi karena terangsang.
“Kamu juga, Gus. Terlalu …, ayo buka celanaku”, katanya.
Dia mencengkeram kepalaku, meraih rambutku yang panjang, lalu mengusap lingerie yang menetes dengan aroma yang lebih mencolok.
“Saya terangsang Gus ..”.
Tiba-tiba dia mundur, menarik kepalaku. Saya tidak merasa berlutut sejak saat itu. Dia segera melepaskan sisa pakaian dalam wanita itu, dan mencampakkannya di lantai yang berkarpet. Wow! Luar biasa, bulu yang padat membentuk segitiga seperti sepasang celana dalam. Lalu aku mengangkat kaki kanannya ke meja rias. Wow! Luar biasa. Bulu vagina menutupi vulva. Aku mengeluarkan bulu vaginanya, dan kemudian ada vulva berwarna coklat kecoklatan, cokelat tua, bukan cokelat muda. Aneh! Aku benar-benar bisa terangsang. Dan jika Anda melihat gambar porno orang kulit hitam malaysian, meski payudara besar, namun vulvanya gelap. Dan itu menjijikkan saya. Tapi kali ini aku takjub. Saya sibak dan perut vaginanya sedikit basah. Begitu juga vulvanya. Vulva adalah perawan dewasa yang mengilap.
Aku terus menatapnya. Aku menunda dengan segenap kekuatanku untuk tidak menciumnya dan menjilatnya. Karena saya ingin menikmati pengalaman baru saya secara bertahap perlahan. Dengan ibu jari klitorisnya mengepal dan membuat gelap.
“Auwwwwww …”, Mbak In terdengar.
Allah! Jadi ini klitoris Mbak. Coklat tua, ada yang merah gelap. Bagus juga klitoris. Aku memakai jempol.
“Ihh …, Gusmu yang gila!”.
Lalu jari telunjuk dan jari tengahku terjepit klitorisnya dan memutarnya.
“Gila …, ghuillaa …, waohh”, dia mendesah.
Napasku mulai memburu. Mbak In juga. Saya beristirahat sejenak. Mundur, duduk, kaki selonjor di lantai, tangan saya di lantai menopang tubuh. Saat hendak menjatuhkan satu kaki, saya berkata, “Jangan menjadi Mbak …”
Aku melihat tubuh di depanku. Baru saat itulah aku menyadari jeli feminin. Body Mbak In sangat ketat. Di usia 42 masih tubuh yang baik, karena masih perawan, belum pernah melahirkan. Lebih dari itu ia rajin berolahraga senam dan fitness, serta berenang. Bisa dibayangkan bagaimana ketiaknya terlihat kalau sedang senam dan berenang. Badan ramping langsing, payudara kecil kencang, bulu vagina tebal merambat.
“Mbak aku pingin melihat ketiak Mbak lagi ..”, aku memohon.
Dia mengangkat kedua lengannya. Membayangkan. Satu kaki di kursi, lengan terangkat, ujung dada lurus. Oh cantik. Oh seorang wanita dewasa. Oh wanita dewasa. Oh wanita lajang. Oh wanita adalah kehangatan pria. Oh wanita kesepian dewasa yang hanya berkhayal setiap hari sambil mendidih nafsu untuk dirinya sendiri.
“Apa sekarang Gus?”.
“Mbak aku mau lihat vulva Mbak ..”.
“Bisa Nih liat ..”.
Wow! Tangan kanannya turun, lalu jari-jarinya melapisi labia majora. Merah gelap itu gelap, tapi bagian dalamnya berwarna merah. Begitu basah dan berkilau. Lendir yang tipis terlihat jelas.
Sejenak saya menikmati pemandangan yang belum pernah saya alami sebelumnya. Tangan kanan menepis vulva, lengan kiri terangkat dengan ketiak berat.
“Mbak jilat sendiri Mbak ..”.
Ah, dia ingin melakukannya. Jari itu menjilat, lalu digosok lagi ke vulva, menjilat lagi, beberapa kali. Aku tidak tahan, lalu berdiri. Ayam saya semakin mengeras, jadi celana dalam saya seperti menyimpan pistol. Ada setetes basah di dalamnya. Itu drop pertama saya. Aku menghela napas. Lalu lepas baju itu.
“Perlihatkan penismu” kata Mbak In, lalu duduk di meja rias. Aku mendekat
“Anda memiliki tubuh yang bagus, Gus. Athletic”.
Saya bersyukur, tingginya 175 cm dengan berat 75, dan ototnya masih kencang.
Lalu ia menyentuh celanaku, lalu tonjolan penisku. Lalu tarik celana saya ke bawah. Tuinggg! Begitu celana dalamku merosot, penisku terjatuh, ditarik ke bawah sebentar, lalu berdiri. Dia menatap penisku.
“Tahan Mbak”, kataku.
Mbak In tidak langsung menggenggam. Tapi itu membidik ibu jari dan jari kelingkingnya seperti alat pengukur panjang.
“Seperti pisang,” katanya.
Lalu ibu jari dan telunjuk melingkari tunas penisku. Jemarinya pucat, kukunya sudah tua. Seksi juga ternyata. Lalu ia memegangnya, tidak terlalu keras, sesaat, lalu dilepaskan.
“Hangat ya ..”, bisik lembut.
Kami berdua menarik napas. Aku pindah sedikit. Baru sekarang pendingin ruangan dingin. Tapi aku tidak ingin terburu-buru. Saya ingin mendapatkan tempo dan menikmatinya lebih lama, karena bukan hanya mengajar Mbak In lagi.
“Ke sofa lagi yuk mbak”, saya undang. Dia tersenyum. Lalu aku terhubung. Kami duduk bersama. Dihadapkan. Aku mencium bibirnya, lalu matanya.
“Haus Mbak”, bisikku.
“Iya Gus …, tenggorokanku juga kering”.
Mbak Masuk ke lemari es, mengambil jus kemasan botol oranye. Kita minum bergantian dari botol yang sama. Lalu bersandar di sofa, keduanya terdiam. Rasanya tidak sampai setengah jam berlalu sejak bukaan di cermin rias. Napasku kembali normal. Tapi penisku kembali kendur, begitulah alam mengaturnya.
“Bagaimana lagi kecil sekali lagi?”.
Saya tersenyum, “Jadi Mbak. Entar gede lagi. Mbak juga lebih kecil lagi klitnya pasti. Cairan vagina juga berhenti mengalir kan?”. Dia mencium pipiku.
“Disini Mbak”, kataku.
“Bagaimana lagi?”, Dia bertanya-tanya.
Dia memintaku untuk berdiri, lalu aku duduk di pangkuanku. Tangan kananku menopang punggungnya, tangan kiriku menopang kakinya. Seperti menahan sambil duduk. Kami berciuman. Lipstiknya mulai menipis.
“Apa yang kamu suka dengan tubuhku Gus?”. Jawabku sambil menciumi lehernya.
“Geli, enak, ahh ..”.
Lalu dia membaliknya, menghadap ke depan, tetap di pangkuanku di sofa. Aku memegangi payudaranya. Aku memainkan putingnya.
“Ternyata Mbak In itu hangat ya?”.
“Bukan lemari es?”
“Ya, Mbak juga penuh pesona feminin”.
“Kanan?”.
“Mbak ternyata punya nafsu ..”.
“Yeah dong”, bisiknya.
“Mbak suka masturbasi juga?”.
“Tentu saja, iya, seminggu sekali, bisa dua kali, pernah tiga kali, saya tahu masturbasi sejak usia 20, sekali 3 minggu. Akhirnya umur 30 gairah saya bertambah. Terkadang saya membayangkan cewek teman saya, sudah tahu penis usia 20, sampai sekarang sudah melakukan intercourse berapa kali mencoba? Sedangkan saya hanya bisa masturbasi “.
“Tidak mau masturbasi?”. Dia mengangguk.
Lalu aku kukangkangkan kaki, dengan posisi jongkok tetap di pangkuanku. Saya mengundangnya untuk bekerja sama, jari tangan dan telapak tangan saya memainkan vulvanya, tapi yang menggerakkan tangan saya adalah tangannya. Luar biasa. Aku tahu bagaimana Mbak diburu nikmat. Awalnya main clit. Lalu labia majora. Mula-mula gerakannya lamban. Akhirnya kencang, bolak-balik, berputar-putar, sampai tanganku menegang.
Lima belas menit berlalu, Ma’am sudah mendesis, sampai akhirnya tubuhnya menegang sesaat. Aku meraih telapak tanganku, aku mencium dengan hidung dan mulutku. Basah penuh aroma.
Mbak pingin apa sekarang? “.
“Ouhh …, pake nanya.
Dia aku Aku berlutut di depannya. Aku mencium paha kanannya, lalu pergi, lalu ke kanan, lalu pusarnya. Dia hanya ah-uh-ah-eh. Saya ulangi sekitar lima menit.
Akhirnya dia tidak bisa menunggu. Kepalaku ditarik olehnya, lalu wajahku ditempelkan di vaginanya. Aku hanya menggosok hidungku di rumput yang lebat itu. Lalu dia mengangkat satu kaki di sofa, kaki satunya tetap berdiri di lantai. Perlahan aku menggosok hidungnya ke klitorisnya, lalu labia mayora nya. Aku merasakan basahnya vulvanya. Saya bisa merasakan bahwa kelembaban vulva Mbak In bukan disebabkan oleh air liur saya, tapi terutama karena dari lubang vagina dibanjiri cairan encer. Begitu banyak cairan yang merembes, jadi saya bisa bernafas sambil mengisap. Slurping, kata orang Kaukasia …, Segar juga. Mungkin ini adalah kuku jari manusia, cairan vagina wanita tunggal yang masih perawan.
Mbak In tidak kuat dengan perawatan saya, kakinya terserang stroke, lalu dia duduk di sofa. Kepalaku meledak. Pahanya aku mengangkat tanganku. Sekarang dia duduk sedikit. Kakinya terangkat, sampai bagian belakang lututnya menempel di pundakku. Aku menjulurkan lidahku di depan vulvanya yang basah, tepat di depannya, belum menempel. Masih jauh, sebenarnya. Kira-kira satu inci dari target. Aku terus diam sambil mencengkeram lidahku. Mbak In sangat marah buat.
“Cepet dong, kamu jahat, Gus aku sudah tidak tahan ..”.
Ya, tunggu apa lagi Dengan kedua jempol saya, saya menjangkau labianya. Dark brownish, mengkilap basah. Klitorinya mengeras seperti kacang renyah. Ah nope, klitoris manis ini seperti kacang mete, begitu pula ukurannya.
Perlahan aku menempelkan ujung lidahku ke klitorisnya yang bekerja keras. Hanya menempel, bukan kugesekkan, bukan kujilatin.
“Auhh …, geli …, enak …, tetap dong”, katanya.
Sekarang lidah saya mulai bermain. Clit bahwa aku menjilati. Tubuhnya bergetar. Lidah saya terus menjelajah ke labia majora, melintasi vulva, sampai permukaan vagina membanjiri, karena adanya campuran air liur dan cairan vagina. Dia terengah-engah.
“Ouhh …”, Mbak hanya terdengar begitu. Pertama-tama Mbak In saya diminta untuk menggoyang penisku sampai benar-benar tegak. Lima menit kemudian penisku menegang lagi. Airku mendidih. Aku berbaring di tempat tidur. Mbak Indriani diatas, fucking me.
“Ayo Mbak tumpang tindih saya, pelan aja, digesekin tuh memakekin mbak, seperti masturbasi”.
Dia dipatuhi Naik turun, bolak-balik, akhirnya sekarang vagina Mbak In sudah basah. Ayam saya basah Sudah, tidak ada foreplay lagi. Yang penting sekarang vaginanya basah. Lalu aku membiarkan diriku nalurinya sebagai wanita dewasa yang matang yang membimbing kekasihnya yang menyala merah seperti dinding di vaginanya.
Awalnya penisku hanya pergi dua inci. Tarik dan licin. Menyenangkan juga. Mbak Dalam pengereman keaksaraan. Cabut lagi, masuk lagi. Vaginanya semakin basah. Lubang vagina semakin longgar. Aku mendorongnya lagi sampai 1 inci. Mbak Dalam pengereman keaksaraan. Berulang kali, saya lupa berapa kali, sampai akhirnya “slepppppp …”, burung saya menusuk vagina lembut perawan tua yang selalu membuat saya masturbasi setiap hari.
“Tidak sakit mbak?”, Tanyaku.
“Tidak,” bisiknya.
Yeah dong, main pelan, vagina longgar dan banjir, dimana bisa sakit. Tentang memuaskan wanita, saya punya banyak pengalaman. Meski tidak kehabisan darah, tanpa rasa sakit, saya yakin ini adalah pertama kalinya vagina terbesar di dunia berada di penis.
Dengan permukaan vagina jari-jari kuelus. Dia goyang. Dua jempol kembali ke sisi bibir vaginanya, sehingga bisa meregangkan mulut vagina.
“Apa nama Mbak?”, Saya menggoda.
“Bego jika Anda tidak tahu!”.
Saya terus menggoda, “siapa namanya? Sebut saja dong, mbak ..”.
“Kamu sangat buruk! Udah sering ngerasain, sering nyoba, masih nggak tau juga”.
Aku diam saja, nggaktidak melakukan tindakan pada pemandangan di depan mukaku itu.
“Apa dong mbak namanya?”.
“Tauk ah!”.
“Apa dong?”
“Dikira-kira sendiri. tau? ”
“Apa dong?”
“Ahh …, bawel amat sih!”.
“Apa dong …, lleelelelhett …, sebutin dong llelelelelhet”, aku menggodanya sembari bertukar lidah di labia dan kclit.
“Auhh …, gila. Nakal “.
“Apa dong, clat, clat, clatttt …”, lidahku semakin nakal, lalu aku hentikan.
“Kamu sendiri nyebutnya apa Gus?”.
Aku jawab, “Vulva, ada klitorisnya, ada labia majora dan minoranya ..”.
“Uh kayak guru biologi aja, Gus. Pake nama latin segala .. “.
“Habis apa dong ..”.
“Malu ah …, udah tahu kan? Tabu buat disebutin, tapi aku sering ngebayangin juga sih .. “.
“Kok ngebayangin?”.
“Iya, kalo lagi masturbasi aku sering mendesis-desis nyebutin kata-kata tabu, sambil memacu diri menuju orgasme bersama pria seksi …, rasanya pingin ngelepasin semua hambatan gitu. Kamu ini mulai mancing ya? “.
“Maksud Mbak?”, Aku tanya sembari menjilati bagiannya itu.
“Iyah, aku kan sering ngebayangin hal-hal yang terlarang termasuk ucapan-ucapan terlarang. Jadinya kalo lagi di, waktu masturbasi, ya nyebutin satu demi satu bagian terlarang …, Ahh kamu nakal, lidahmu pintar, udah sering yahh. Aduh …, geli! “.
“Hmm …, ayo dong mbak ..”.
“Iyahh sekalian basah, sekalian buka deh rahasia ini. Kalo lagi masturbasi aku sering nyebutin ini …, Aahh geli, nikmat terusin …, aku sering nyebutin ini …, Ah kamu nakal! “.
Iya, gimana bisa ngomong lengkap, kalau mulutku makin aktif dan binal menggarap pusat kewanitaannya?
“Aku sering berbisik, kadang juga berteriak, sih …, itil, memek, jembut, burung, mani, itil, memek, burung, jembut, Gus!”.
“Lagi Mbak ..”, Aku senang mendengar kata-kata tabu itu.
“Memek, iyaa …, aku..mheekkkk …, iiiittt..theeeiiill …, jemm bouttttt …, kuonnnnn … tuuoll …, Gila nikmat banget teknik oralmu!”.
“Ini Mbak burungku!” Aku berdiri, aku mengacungkan penisku ke mukanya.
“Woooouwwww …, tambah gede. Udah ngerasain berapa memek nih? “.
“Pegang Mbak ..” Dia memegangnya. Lalu mengelus. Akhirnya mengocok pelan.
“Isep dong …”.
“Ah nggak. Entar ajah …, aku masih takut … “.
Aku tidak mau main paksa Aku tahu sedang mengajari cewek mengenal pengalaman pertama. Biar umurnya sudah matang, tapi pengalaman masih nol. Lalu Mbak In kuminta jongkok di mukaku, sementara aku rebahan di karpet, kepalaku diganjal bantal.
“Sekarang Mbak yang aktif ya…, anggap aja lagi onani..”.
Wow! Tanpa penjelasan lebih lanjut dia langsung memainkan kemaluannya di mukaku, terutama di hidung dan mulutku. Namanya saja naluri? Biar tidak pengalaman, masih perawan, tapi kalau usia sudah matang, juga dia sering nonton film porno, sehingga tidak rikuk lagi menghadapi hal tersebut. Mbak In jadi pintar dalam waktu sekejap. Kadang dia jongkok mengambang, sehingga kemaluannya cuma mengambang di mukaku, tapi kadang juga menekan seperti menduduki wajahku. Begitu banyak cairan membajir dari liangnya.
Sekitar 10 menit hal itu berlangsung. Maju mundur, geser kanan kiri, berputar, begitu terus. Sampai akhirnya.., “Ahh gila…, mhemm..mhekkkkkkuuuuuuu…, itttttt..tillku…, Auhh…, Memek! Itil! Ayo jangan berhenti…, aku nggak kuat Gus!”.
Ah ini dia awal orgasme hebat. Tubuhnya mulai mengejang. Lalu kedua lutut Mbak In tergetar. Tidak ada suara dari mulutnya. Kemudian tubuhnya membungkuk. Dan akhirnya setengah telungkup di atas tubuhku. Kurasakan cairan vagina terus membanjiri wajahku, memasuki hidungku, tertelan oleh mulutku. Tubuh Mbak sudah basah oleh peluh.
“Terima kasih, Gus..”, bisiknya.
Dia menggelindingkan tubuh di sampingku. Nafasnya tersengal-sengal. Aku bangun berdiri. Dia masih rebahan. Kupandangi tubuhnya yang mengkilat, dengan kaki mengangkang dan lengan terentang hingga ketiaknya yang lebat itu tampak. Ah indahnya kejalangan seorang Mbak In!
Dia memandangi penisku yang teracung tegak. Aku pegang batangku. “Jangan sekarang”, katanya. Aku mengalah. Padahal nafsuku sudah sampai ke ubun-ubun.
Lantas Mbak In kubimbing untuk berdiri, duduk di sofa, dan aku ambilkan minuman untuknya.
“Thanx…”, katanya.
“Mbak capek?”, tanyaku. Dia mengangguk.
“Sini aku pijitin”, kataku.
Dia menurut ketika aku telungkupkann tubuhnya di sofa. Aku mulai memijat kakinya, lalu pinggangnya, dan punggungnya.
“hh…, nikmat…, kamu pinter, Gus”.
Saat itu penisku mulai mengendor. Nafsuku mulai berkurang.
Sekitar seperempat jam itu kupijati dia. Kini giliran mulut dan hidungku menciumi punggungnya, pinggangnya, pantatnya, dan entah apa lagi, pokoknya oral seks kupraktekkan lagi. Lendir mengalir membanjir. Penisku menegang lagi. Beberapa tetes mani beningpun keluar karena tidak tahan oleh birahiku yang kian menggila.
“Aku basah Mbak”, kataku.
Mbak In menoleh melihat penis tegakku yang pucuknya basah. Dia terbelalak. Lagi-lagi posisi tadi berulang. Bau keringat dan cairan vagina bercampur. Aku tidak tahu sudah berapa cc menghirup lendir encer yang keluar dari lubang vagina si perawan tua ini. Beberapa kali dia mengejang. Mungkin empat kali. Dan puncaknya adalah, “Mememekkku Gusssss…, Itiillku…, nggak tahan. Itillkuu mauuu lepassss…, Auh!”.
Dia orgasme hebat. Vaginanya seperti menyempit tiba-tiba.
Kami sama-sama lelah. Lalu beristirahat.
“Mandi air hangat yuk”, kataku.
Kami ke kamar mandi, menyegarkan diri dengan shower. Tanpa percumbuan, tanpa birahi, tanpa nafsu. Saling menyabuni dan mengeramasi. Penisku sudah mengecil.
“Lucu ih”, kata Mbak In sembari meremas penisku yang terkulai. Lalu kami tidur. Berpelukan dalam kamar sejuk ber-AC. Dengan segera aku terlelap karena kecapean.
Kami tertidur, sudah jam 3 pagi lebih. Capek dan ngantuk sekali. Ototku seperti terurai. Kami berpelukan di ranjang Mbak In, ranjang perawan tua yang selalu kesepian, menjadi saksi tiap kali si lajang onani karena diamuk birahi, menjadi saksi tiap kali beberapa helai bulu vaginanya rontok saat digusel oleh tangannya sendiri.
Di kamar ber-AC itu kami terlelap. Aku benamkan wajahku di ketiaknya yang lebat. Entah jam berapa aku tidak tahu karena Mbak In membangunkanku.
“Ini apaan? Kamu ngompol yah?”, tanyanya. Ternyata sprei telah basah oleh maniku, sebagian menyentuh pantat Mbak In.
“Ini maniku Mbak. Habis tertahan terus sih di dalam akhirnya cari jalan keluar sendiri. Aku sih nggak tahu, soalnya lagi tidur tadi”, kataku tersipu.
“Ih hangat dan lengket ya”, katanya.
“Bayangin aja kalo ini mengalir ke memek Mbak”, kataku.
“Nakal kamu”, dia mencubitku.
Dengan tissu kubersihkan ceceran maninya. Setelah itu aku tertidur lagi karena masih mengantuk. Mbak In sepertinya juga tertidur.
Pagi hari, ketika sudah agak terang, aku terbangun. Ternyata Mbak In sudah mandi, lagi make up di depan cermin.
“Aku harus masuk kerja”, katanya. “Padahal capek nih” lanjutnya.
Kupandangi dari ranjang. Tubuh yang kencang itu kuamati dari belakang. Inilah pesona si perawan tua. Dia cuma memakai celana dalam dan BH-nya hitam tipis mungil berenda. Oh, seksi sekali! Tak terasa penisku berdiri lagi.
Aku bangkit dengan senjata teracung. Aku hampiri Mbak In. Kupeluk dari belakang. Aku ciumi lehernya, ketiaknya sambil tanganku mengelus payudaranya yang kecil.
“Ah, jangan Gus, aku lagi make up nih…, nanti rusak make up-ku”.
Aku membisikinya, sambil menjilati telinga kirinya, “Janji deh Mbak make up nggak rusak, tapi dapet kenikmatan yang banyak diperoleh para cewek di kantor Mbak pada pagi hari..”.
Oh, aku kian merapat ke tubuhnya. Tapi tidak bisa mencium pipi dan bibirnya, takut kalau make up-nya rusak. Yang penting bisa menikmati bulu ketiaknya yang luar biasa itu dengan hidung dan mulutku. Penisku semakin tegak berdiri. Tanganku mengelus puting susu si perawan tua yang makin mengeras ini.
“Kamu terlalu, Gus”, bisiknya.
“Terlalu nikmat ya?”, tanyaku.

Aku terus memeluk dari belakang. Tanganku menggusel payudara mungilnya yang keras, payudara 42 tahun yang tidak pernah merasakan kenakalan lelaki muda. Hidungku merasakan sensasi gila yang luar biasa, bulu ketiak yang hitam lebat dan panjang.
“Ketek gini kok dianggurin bertahun-tahun sih Mbak”, tanyaku.
“Dianggurin gimana?”, tanyanya.
“Ya dianggurin dalam arti nggak pernah diciumin laki, nggak pernah digosokin burung”.
“Heh, burung main di ketek? Bisa? Coba dong..”.
Make up-nya Mbak In sudah selesai. Sekarang dia duduk di kursi rias, lantas kedua lengannya diangkat sehingga bulu ketiaknya tampak jelas. Penisku yang tegang, aku gosokkan ke ketiaknya. Wuahh…, hangat, lembbut, seperti menyentuh bulu vagina. Mbak In melihatku dengan pandangan mesra. Penisku semakin besar dan mengeras. Ingin sekali rasanya minta penisku dicium, dijilat lalu dihisap olehnya. Tapi nanti dulu, si perawan tua ini harus dilatih. Kalau serba mendadak bisa trauma nanti dan jadi alergi dengan penis.
Akhirnya aku tidak tahan juga. Rasanya maniku sudah mendidih. Belum pernah aku onani memakai bulu ketiak, dulu aku tidakak suka dengan cewek yang ketiaknya berbulu. Karena tidak sabar aku gesekkan penisku ke ketiaknya sambil kukocok.
“Mbak aku udah nggak kuat, bayangin dari semalem cuma nahan burung supaya nggak masuk memekmu, jadi gimana dong..”. Mbak In tersenyum.
“Mbak, bantu dong Mbak”, pintaku. Tangannya meraih penisku lalu mengocoknya pelan.
“Cepat Mbak. Dia menurut. Terus Mbak..”.
“Aduh pegel nih…, gantian tangan kiri ya..”, Aku tidak bisa berkata apa-apa cuma mengangguk. Air maniku yang mendidih tadi tidak jadi keluar. Yang pasti rangsangan yang kuterima semakin kuat.
Mbak In mulai berkeringat. Uh, tambah cantik melihat si perawan tua yang berberbulu ketiak lebat ini berpeluh. Ketiaknya juga basah, payudaranya juga.
“Tanganku capek..”, katanya. Ya sudah aku kocok sendiri penisku.
“Kamu pingin apa Gus?”, tanyanya.
Aku bilang, “Pokoknya pingin nikmat, tuntas, sampe orgasme dan maniku terkuras abis”.
“Tapi aku belon siap buat bersetubuh. Memekku belon siap dirobek selaputnya. Belon siap disembur cairan lelaki..”, katanya manja.
“Yah gimana Mbak, aku nggak bisa mikir nih”. Mbak In jongkok. Mengamati dari dekat caraku mengocok penis. Mulutnya ternganga.
“Oh gitu ya…, gila..”, katanya. I can not stand.
“Awas Mbak mau muncrat nih!”, Mbak In terbelalak.
Aduh bagaimana kalau mani ini nanti kena mukanya, kena bibirnya. Dia kan masih perawan. Vaginanya saja belum pernah disembur mani, kok muka dan mulutnya, kasihan…
“Terus Gus!”, katanya.Tangannya menyingkirkan tanganku.
“Biar aku aja”, katanya. Aku nurut saja.
Tangan lembut berjemari lentik itu mengocok penisku pelan-pelan. I can not stand.
“Cepetan Mbak!”, kataku. Dia semakin cepat mengocok penisku.
“Mbak angkat dong lengan kiri. Aku mau lihat ketiakmu yang lebat itu..”.
Jadilah dia jongkok sambil mengangkat lengan memamerkan ketiak hebat yang berbulu luar biasa. Aku semakin bernafsu. Akhirnya aku cuma bisa berkata, “Awassssss…”. Dan “Crat…, crat…, crat”, air maniku muncrat keras, banyak, dan kental. Mbak In sempat menarik muka menjauh, tapi payudaranya yang mungil dan kencang itu terkena semprotan air maniku.
“Uh, yang namanya mani ternyata hangat ya..”.
Dioles-oleskannya air maniku ke seluruh payudaranya.
“Kok lengket ya…, Kayaknya superglue, hihihik…, Gimana kalo misalnya masuk ke memekku…, Ih aku harus ganti beha nih..”.
Mbak In masih terheran-heran oleh air maniku, benda yang baru dilihatnya ketika usianya sudah 42 thn. Dalam ruang ber-AC mani yang teroles rata di payudaranya cepat mengering.
“Wahh…, ini rupanya krim pengencang tetek. Di kulit kenceng rasanya, Gus..”.
“Buat facial juga bisa Mbak. Makanya di VCD selalu ada facial cumshot…”.
“Ih, nakal deh kamu”, katanya sambil mencubit pipiku.
Aku capek sekali. Terima kasih Mbak In sayang, perawan tuaku. Pagi itu kami berangkat bersama dan sepakat untuk ketemu lagi buat belajar seks. Kami sering bertemu. Jalan-jalan, makan, nonton, seperti orang pacaran. Lalu ya biasalah main seks tanpa persetubuhan. Hal itu berlangsung 5 bulan. Kami bertemu seminggu 2 kali. Oral seks itu rutin. Hanya aku yang melakukan oral seks pada dia, dianya sendiri tidak pernah melakukan oral pada penisku. Ini prestasi buatku. Kencan sudah hot, tapi tidak ada persetubuhan. Vagina Mbak In bisa dijilat dan dihisap sampai kering, tapi keperawanannya masih tetap terjaga. Air maniku sudah bocor berkali-kali, tapi tidak setetespun yang menyelinap ke cervix si lajang hangat bernafsu kuat itu. Maka hanya cunnilingus (tanpa diimbangi felatio) yang selalu berlangsung.

Tak apa. Aku sendiri suka bisa mengerem nafsu, sekaligus belajar memperoleh kepuasan tanpa menancapkan penis ke lubang vagina yang tiada henti mendambakan kenikmatan, lubang vagina yang sebetulnya memendam iri pada vagina wanita lain yang sering dijejali penis dan ditumpahi mani hangat. Tapi, yah…, vaginanya saja belum kena penis, masak mulutnya sudah dimasukkin penis, Kasihan kan? Pemanasan kami tentu dengan nonton BF di VCD. Aku kan punya banyak koleksi film BF. Juga dari majalah.

Ternyata Mbak In si perawan tua ini punya beberapa majalah hot. Katanya sih seperti surat kaleng mendapatkannya. Diposkan ke rumah tanpa nama pengirim. Dia menduga dari cewek-cewek di kantornya yang baru saja pulang dari luar negeri. Majalah itu menjadi bahan onaninya Mbak In. Atau juga onani kami berdua. Muncratnya air maniku ya paling-paling di payudara mungilnya, atau di perutnya, pernah di pusarnya dan ceceran air maniku itu merambat ke bulu superlebatnya.

Hari itu Mbak In genap 42 tahun. Cuma kami rayakan berdua saja di sebuah restoran di hotel berbintang lima. Dia seksi sekali malam itu. Memakai sack dress ketat tanpa lengan, tanpa BH. Karena dia punya kebiasaan menyibak rambut, sehingga bila lengannya terangkat, maka ketiak hebat itu tampak. Aku lihat pelayan restoran dan pengunjung lain pada ngeliatin. Mbak In sendiri sepertinya bangga dengan ketiaknya sekarang.

Pulang dari restoran kami bercumbu, seperti biasanya. Pakai oral, pakai kocok-kocokan, hingga air maniku mau habis. Mbak In sudah terbiasa dengan muncratan mani. Dibiarkannya air maniku membasahi payudaranya bahkan lehernya. Kadang di perutnya, tepat di pusar. Mbak In makin pintar. Cara mengocoknya semakin hebat. Paduan irama lambat kadang cepat bisa menguras maniku. Kadang penisku digesek-gesekkannya ke ketiak lebatnya, ke payudara mungilnya. Air maniku pernah menetes di ketiaknya. Habis nikmat sih, seperti menggesek bulu vagina.
“Hari ini aku genap 42 tahun, Gus. Jadikan aku wanita selengkap-lenglapnya” pintanya, setelah kami istirahat karena kecapekan.
Hari sudah menjelang pagi. Tapi penisku masih bisa berdiri tegak. Inilah saatnya untuk membobol si perawan tua ratu jembut yang jago onani itu, yang vaginanya merindukan sodokan dan elusan batangan daging bertulang lunak, dengan moncong water canon yang siap menembakkan cairan kental yang kencang di kulit wanita. Aku tentu saja mengiyakan.
“Terserah caramu, asal nikmat”, katanya.
Di atas tubuhku Mbak In bergeser pelan, memutar pinggul, goyang kanan kiri. Serba pelan. Kali ini dia tidak banyak bicara. Cuma merem melek sambil ah.., uh.., ah.

Akhirnya aku tidak tahan. Vagina perawan tua itu tiba-tiba seperti menyempit dan menyedot penisku.
“Mbak, Aku mau keluar., Mbak!”, Mbak In cuma menciumku dengan mesara. Keringatnya menetes di wajahku. Aku tidak ingat apa-apa lagi. Rasanya seluruh cairan kelelakianku tersedeot. Seluruh tubuhku seperti diperas. Inilah orgasme hebat yang jarang kualami. Ternyata aku tidak muncrat, cuma mengalir pelan tapi banyak maninya. Saat itu juga Mbak In orgasme. Tubuhnya mengejang, menggelepar di atas tubuhku, dengan keringat membasahi tubuh. Bau ketiaknya kian merangsang.
Dia terpejam menikmati orgasmenya yang pertama kali lewat persetubuhan.
“Oh indahnya. Terima kasih Gus”, katanya.

Tidak ada jeritan liar yang menyebutkan segala genital dalam bahasa sehari-hari. Tidak ada teriakan tertahan. Semuanya begitu lembut, hangat, dan indah. Aku merasa seperti perjaka yang kelepasan kemurniannya. Kalo Mbak In sih jelas, perawan tua yang terlepas keutuhannya, dengan lembut, tanpa robekan selaput yang menyakitkan, tanpa darah karena koyakan.

Sampai terang matahari kami masih berpelukan. Kami berdua bolos kerja. Mandi berdua pakai air hangat, alangkah segarnya. Lalu tidur. Siangnya setelah makan kami bersetubuh lagi. Aku yang di atas. Air maniku masih bisa membanjir, menggenangi vaginanya. Lalu istirahat. Sore bersetubuh lagi. Hari-hari selanjutnya persetubuhan menjadi rutin. Entah sudah berapa cc air maniku mengalir ke vagina perempuan berusia 42 tahun ini, tapi masih seperti vagina gadis remaja karena tidak pernah dipakai itu. Semua adegan BF kami tiru, kami coba. Mbak In makin pintar. Juga makin buas.

Indriani si jembut lebat, dengan vagina coklat dan clitoris sebesar mete ini memang wanita yang tepat untuk menguras syahwat. Indriani, kenapa sih birahimu kau simpan sekian lama, tersembunyi dalam vagina gelap dan bulu lebatmu? Demi karierkah kau menahan nafsu betinamu? Kau buang hari-harimu tanpa merasakan cipratan mani dan sodokan penis pada cervix-mu. Aku semakin terikat padanya. Aku makin menyayanginya. Inikah cinta? Sayang seribu satu sayang, Mbak Indriani si lajang kesepian bersyahwat dahsyat itu tidak pernah membicarakan soal asmara. Tak adakah cinta di kamus hatinya? Tak adakah cinta di ujung vaginanya, agar kelak bisa berbuah janin?

Banyak sudah variasi yang kami lakukan. Hanya satu yang belum. Mbak In membiarkan mani muncrat di wajahnya, begitu pula kepada mulutnya, padahal aku ingin sekali, karena setiap kali masturbasi itulah termasuk yang kubayangkan.

Hari ini ulang tahunku ke 25. Kami bercinta. Waktu ditanya apa permintaan istimewaku, maka aku jawab, “facial cumshot kayak di VCD porno”.
Surprised! Mbak In mau. Tapi dengan syarat aku harus bisa membuatnya orgasme terlebih dahulu. Ya maka kami bersetubuh dengan posisi dia di atas.
Berkali-kali dia mengingatkan, “Awas, jangan muncrat dulu Gus..!”.
Kalu aku sudah mau keluar, Mbak mencabut vaginanya, lalu meloncat dan menggesek-gesekkan vaginanya ke mukaku. Mulutku melumat habis vagina dan clitoris-nya sampai aku minum cairan vaginanya banyak sekali. Begitulah sampai akhirnya dia klimaks, sambil bicara keras.
“Akan aku habisin manimu…, manniimuuu…, mhannn..nhiiii..muuu…, spermaamu…, pake mulutku untuk pertama kalinya Gus!”.

Semoga tetangga tidak ada yang mendengar. Mbak In kalau sudah di puncak birahi memang tidak bisa mengontrol diri. Pingin teriak yang tabu-tabu. Kadang setengah menjerit, “burungll” atau, “Memekku! Memekku! Memekku…”.
Tapi aku justru malah senang. Malah tambah terangsang. Aku paling suka kalau melihat dia menjadi jalang, jadi budak birahi. Nah begitu selesai klimaksnya dengan banjir cairan vagina, Mbak In langsung melumat penisku.

Inilah kelebihan wanita. Biar belum pernah melakukan oral seks di penisku, toh terampil juga. Dia hisap, dia kocok, dia jilat, sedot, lumat, kocok, sampai akhirnya aku tidak tahan. Menjelang puncakku, Mbak In melepaskan mulutnya. Si lajang penuh birahi itupun turun dari ranjang, lalu bersimpuh di lantai. Aku disuruhnya bangun dan berdiri. Maniku sudah tidak tahan. Lalu dia mengocok lagi penisku sambil jongkok, sementara aku berdiri. “Mbak pake satu tangan aja. Tangan Mbak yang satunya diangkat, biar aku muncrat sambil menikmati jembut ketek yang fantastis itu..”, pintaku. Oh, dia menurutiku. Maka tangan kiri mengocok pelan penisku, tangan kanan terangkat, merentang lengan, sampai ketiaknya terlihat jelas. Penisku semakin menegang. Jilatannya makin gila. Kocokannya makin habat.

“Mbaak..”, aku menjerit tertahan. Semuanya berlangsung cepat. Maniku muncrat, “Crat…, crat…, crat”, Masuk ke mulutnya, tapi tidak tertampung semuanya. Jadilah membasahi pipi dan hidungnya. Bibirnya belepotan mani. Sebagian menetes ke payudaranya yang mungil tapi keras kenyal itu.
“Enak juga mani ternyata”, katanya setelah kami terengah-engah duduk di lantai. Kami istirahat.
Pagi esoknya ketika aku masih tertidur, aku terbangun. Karena ternyata penisku sudah dihisap si lajang 42 tahun yang sekarang haus mani itu.

“Iya Mbak ini jamu, biar awet muda. Buat facial bisa bikin wajah kiencang”, kataku.
“Katanya sih gitu. Temen-temen itu juga pada minum mani dan dipakai buat cuci muka”, katanya sambil terus mengocok penisku. Akhirnya maniku mengalir dan menjadi jamu yang langsung dihisep semuanya. Mbak Indriani memang hebat. Kali ini tidak ada air maniku yang tercecer. Semuanya masuk ke mulut dan ditelannya. Eh, tidak semua sih. Jarinya sempat masuk ke mulut, lalu mengoleskan mani encer itu ke puting susunya. Sebagai hadiah, aku oral vaginanya. Aku sibak bibir besar di mulut vaginanya dengan jari, lalu mulut aku runcingkan, dan sruppp…, masuk ke pintu liang vaginanya. Lidahku menjilat, mulutku menyedot. Semua bagian terkena, dinding luar vagina, labia mayora, labia minora, clitorinya yang sebesar kacang mete itu. Dan terakhir…, aku masukkan pula jariku, berputar-putar di dalam, menggapai G-Spot Mbak In, sementara bibir dan lidahku menggarap daerah pembangkit birahinya. Tentu saja Mbak Indriani jadi blingsatan.

Ketika dia menjerit, “Itilkuuuu lepas…”, saat itulah vaginanya membanjir dan membasahi tenggorokanku, asem asin rasanya. Dan bulu vaginanya itu basah kuyup, oleh campuran lendir vagina dan ludahku. Hari ini memang nikmat sekali. Setelah itu, hari-hari selanjutnya, seks kami makin gila. Kalau main 69 seringkali sampai air maniku muncrat di mulut mungilnya itu. Tapi Mbak In masih haus variasi. Pingin seperti di BF yang bermacam-macam gaya.

Sudah enam bulan hubungan kami terjalin, dengan penuh birahi dan mani. Mbak In seperti orang yang baru mengenal seks. Memang ya, baru kenal. Makanya keranjingan bersetubuh. Maunya penis dan mani. Beginikah kalau wanita dewasa melajang terlalu lama, obsesinya cuma penis dan mani lelaki, dan yang namanya onani tidak memuaskan dirinya sendiri.

Suatu kali Mbak punya permintaan gila, ingin main bertiga dengan cewek lain. Aku yang harus mencari ceweknya. Tapi itu soal kecil. Aku dulu, sebelum sama Mbak In, suka jajan, jadi punya langganan cewek nakal. Langgananku yang aku sukai adalah Susi. Tubuhnya sintal, kulitnya putih, payudaranya 38, bulu vaginanya tipis, vaginanya merah. Dia jago oral seks. Aku mengontak ke handphone Susi dan dia setuju. Kami janjian di motel Pondok Nirwana di Cawang. Ngakunya sih dia juga kangen.

Di motel aku dan Mbak In check in ke kamar VIP, menutup rolling door, lalu nonton video yang disiarin di TV yang tergantung di atas. Isinya orang bersetubuh, kebetulan main keroyokan, satu pria menghadapi empat perempuan. Puncaknya air maninya menjadi rebutan empat mulut mungil. Wah aku juga mau tuh! Sambil nonton kami petting. Aku cuma memakai celana dalam. Mbak In memakai lingerie satin putih yang tembus pandang, sehingga bulu vaginanya lari kemana-mana.

Ketika Susi datang, Mbak In seang pipis. Tidah tahu, kenapa lama sekali di toilet ya. Padahal begitu Susi datang kami langsung berciuman karena kangen. Ketika berpelukan aku tambah ereksi. Susi memakai rok mini dan koas you can see ketat. Langsung kulepas CD-ku.
“Ya ampun Gus, udah napsu banget ya…, Apa nih, minta diisep dulu apa langsung tancep ke memek?”.
Aku tidak menjawab, Susi langsung jongkok mengisap penisku. Sambil dikocoknya pelan. Sudah biasa tuh kami kencan di sini. Ketika sedang nikmat-enaknya dioral, eh Mbak In keluar. Susi tentu saja kaget dan malu. Dia salah tingkah. Mbak In segera mengatasi keadaan.
“Nggak usah malu, Sus. Ini memang mauku. Aku pingin belajar dari kalian”.
Lalu aku menjelaskan kalau kami butuh selingan. Aku mengaku kami ini pengantin baru. Susi agak heran, kok aku memanggil “istriku” itu Mbak. Tapi namanya saja bisnis, Susi minta tambah. Kalau sendirian melayani aku Rp 300.000, maka kali ini minta Rp 500.000.
Mbak In karena nafsunya sudah di ubun-ubun, mengiyakan saja. Uang dia kan banyak.
“Aku udah sediain cash cukup kok hari ini..”, Hebat juga si jembut lebat ini, bisa mengantisipasi.
“Mbak pinginnya gimana?”, tanya Susi.
Ternyata Mbak In maunya melihat dia striptis, setelah itu pingin melihat dia bersetubuh denganku. Susi mau. Aku dan Mbak melihat striptisnya dari ranjang sambil saling merangsang. Makin hebat striptisnya Susi, Mbak In makin basah. Padahal Susi belum telanjang.
Ketika Susi telanjang, Mbak In kian terbakar. Dia meniru Susi mempermainkan payudara dan puting susunya. Dia juga meniru waktu Susi memasukkan dua jari ke vagina lalu menjilatinya. Aku tentu saja makin ereksi.
“Oh gini rupanya cara merangsang lelaki”, kata Mbak In. Ketika Susi nungging, lalu memasukkan jarinya ke vaginanya dari belakang, Mbak In menirukannya. Waktu Susi menyodorkan telapak tangannya untuk minta ludahku, yang mana tangan basah itu akhirnya dia oleskan ke vagina dan anusnya, Mbak In juga ikut. Jadi kering tuh tenggorokanku. Susi sambil nungging memasukkan jari ke anusnya, Mbak In mengikutinya. Hanya satu yang Mbak In tidak bisa, menjilati putingnya sendiri.
Akhirnya aku punya ide. Susi aku minta berdiri, mengangkat lengan, lalu menjilati ketiaknya. Mbak In yang duduk bersandar di atas kasur ikut mencobanya. Wow, seksi sekali. Ketiak lebat itu basah oleh jilatannya sendiri.
Akhirnya Mbak In tidak tahan waktu melihat Susi mengangkangkan satu kaki di atas ranjang, sambil meremas vaginanya yang merah yang berbulu tipis itu. Susi, gadis sipit dari Pontianak itu memang sensual dan erotis. Mbak In terengah.
“Udah giliranku dulu baru kamu Sus. Ayo Gus, mana burungmu…”.
Aku menarik Mbak In ke sofa. Aku duduk seperti memangkunya, lalu Mbak In jongkok di atas pangkuanku sambil mengangkang, dengan begitu penisku bisa menembus vagina Mbak In yang lebih gelap dari Susi. “Blkessss…”, nikmat sekali masuknya karena sudah licin vagina Mbak In si lajang gila seks. Susi hanya melihat saja. Akhirnya dia punya inisiatif. Dia ciumi vagina Mbak In dan penisku, sementara pantat Mbak In naik turun.
Jadi begini posisinya. Mbak In mengangkang di pangkuanku, menghadap ke depan, dengan vagina tertembus penis, sementara Susi nungging di depan sofa dengan muka menempel di kemaluan kami. Jilatan Susi kian menggila. Ketika penisku keluar, karena meleset gara-gara vagina Mbak In sudah banjir, segera ditangkapnya dan dikocok. Sementara mulutnya masih menggarap clitoris dan vagina Mbak In.

Mbak terengah-engah. Kadang menjerit. Susi memang pintar. Jam terbangnya sebagai wanita nakal tahu bahwa penisku mau muncrat. Maka peniskupun digenggamnya erat, agar kecekik, sehingga maniku tertahan. Sementara itu mulut dan tangan kanan Susi sibuk menggerayangi tubuh Mbak In. Si Mbak rupanya sudah tidak peduli kalau penisku sudah tidak di dalam vaginanya lagi. Oralnya si Susi telah melambungkannya ke alam birahi ternikmat di dunia.

Akhirnya Mbak In mencapai klimaks. Aku dengar suara mulut Susi mengisap-isap cairan vagina Mbak. “Slrppppp..”. Beberapa kali Mbak In klimaks, sampai akhirnya menjerit, “Memek, memek, memekkuuu…, nggak tahan…, Lu memang lonte hebat Susi…, Ajarin aku buat menikmatin seks…, Auhh…, itilku mau lepas, aku kebelet pipis, memekku mau pecah…, Mana burung, mana mani..”.
Semakin seru ucapan Mbak In di ambang puncak dari segala puncak birahinya.

Akhirnya semuanya usai. Mbak In terkulai, dengan vagina memerah basah, begitu pula bulu lebatnya yang basah kuyup, karena campuran cairan vagina dan ludah si amoy Susi. Mbak Indriani turun dari pangkuanku, lalu merebahkan diri di kasur. I can not stand. Maka segera aku kocok penisku.
Susi tiba-tiba bilang, “Jangan Gus. Itu buatku. Lu pikir gue nggak kangen juga. Biar lonte gue juga butuh nikmat lho..”
Susi rebah di ranjang, di sebelah Mbak In, lalu mengangkang, dan penisku ditariknya. Lalu, “Bles…”. Baru dua menit aku sudah muncrat habis-habisan. Tapi aku tahu siapa Susi karena aku langganannya. Justru ketika aku muncrat itulah dia mulai beranjak orgasme. Ketika penisku melemas, dia seperti berpacu dengan waktu, agar bisa mencapai puncak, sementara vaginanya kian licin karena sperma, dan penisku bisa tergelincir keluar.

Akhirnya dia puncak juga. Dan memberi servis extra, melumat penisku yang melemas dengan mulutnya, sampai penisku betul-betul mengerut kecil dan kering maninya. Setelah itu kami istirahat, memesan makanan yang diantar oleh pelayan. Kami telanjang. Pelayan motel tidak bakal melihat, karena nganternya cuma dari lubang.

“Gua mau mandi ah”, kata Susi. Dia memang cuma makan sedikit, sehingga dengan nikmat bisa mutusin buat mandi. Begitu shower di kamar mandi terdengar, Mbak In meraihku.
“Masih bisa berdiri nggak, Gus?”.
“Aduh, aku capek Mbak, udah lemas..”.
“Ya udah, kita 69 aja ya…, Aku lagi birahi tinggi nih…, Biasa, mau mens Gus”.

Lalu kami ber-69. Mula-mula aku keringkan vagina basah dengan bulu yang awut-awutan dengan celana dalam Mbak In. Itu yang sering aku lakukan, mengepel vagina dengan underwearnya Mbak In.
Setelah vaginanya kering, aku jelajahi dengan mulutku. Rupanya cairan vagina Mbak In juga sudah habis. Jadi aku harus mengeluarkan saliva-ku agar vaginanya basah. Karena aku berposisi 69 di atas, maka kusibak lubang itu selebar-lebarnya, lalu aku ludahi. Setelah basah, aku mengulum clitoris Mbak In yang sebesar mete itu.

Setelah kami berukar posisi. Dia di atas. Setelah itu jariku masuk ke vaginanya. Satu jari dulu, jari tengah, keluar masuk, berputar-putar, menjelajahi lubang si lajang jalang. Lalu dua jari, jari tengah dan telunjuk. Selama dalam lubang, sebisa mungkin aku membentuk tanda V, sambil mengeksplorasi liang Mbak Indriani. Dia mulai terangsang. Mulai merintih. Mulai basah. Akhirnya tiga jariku masuk ke vaginanya, dan berputar-putar.

“Gilaa…, kenapa nggak dari dulu kamu lakukan Gus? Terusss..”.
Karena di atas, Mbak lebih leluasa. Pinggulnya terus bergerak. Aku sempat kehabisan napas, soalnya hidung dan mulutku digusel vagina dan bulu vaginanya tiada henti, sehingga oksigen terhambat masuk ke mulut dan hidungku. Mbak In sendiri makin kuat mengulum dan mengocok penisku. Akhirnya aku ereksi sedikit, dan akhirnya bisa berdiri tegak.

“Terus Mbak, dikocok, diemut, dijilat…, Terus…, sampe keluar maniku..”.
“Sayang banget kalo kamu muncrat sekarang. Masukin dulu ke lubangku, baru kamu boleh muncrat..”.
“Tapi Mbak di atas ya..”.

Mbak In tidak menjawsab, tapi langsung ganti posisi. Dia menindihku dan dalam sekejap vaginanya tertembus oleh penisku. Dia terus bergerak. Keringatnya membanjir. Lipstiknya habis. Rambutnya acak-acakan. Tapi entah mengapa dia jadi kelihatan cantik sekaligus jalang.
“Gus kamu tahan nafsumu, jangan ikutan aktif, biar nggak nggak cepat muncrat..”. Lalu dia memacu diri.
Saat itulah Susi keluar dari kamar mandi, cuma dililit handuk.
“Ayo Susi sayang, bantu aku..”.
Susi ketawa, “Udah tuntasin aja secepatnya Mbak..”.
“Ayo Sus..”, kata Mbak In.
“Tapi tambah Rp 75.000 ya?”.
“Terlalu lu Sus…, Komersil banget sih?”.
“Gue kan nyari nafkah Mbak…” Sambil menjawab, Susi sudah duduk di samping kami. Tangannya meraba biji pelirku.

“Gini deh, mulut gue udah capek nih. Gimana kalo pake jari, tapi gratis?”.
Mbak In yang terengah-engah itu tidak menjawab. Yang terasa sekarang adalah penisku seperti punya teman di lubang. Jari tengah Susi ikut menembus vagina Mbak In. Mbak In blingsatan. Mulai ngomong jorok.
“Bagus, Sus, bagus…, Gila, itil gue lu jepit pake jari ya?, Uhh”, Mbak In kian berkeringat. Aku tidak melihat apa yang sedang trjadi, karena posisiku tidak memungkinkan untuk tahu. Bayangkan, Mbak In di atas, dan terus menciumiku. Aku tahu, birahinya mulai menanjak kencang. Yang pasti kurasakan jemari Susi bermain-main di kemaluan kami.

“Gila! Gila! Gila Gus! Dua jari njepit itilku, lalu jempolnya masuk dubur…, Terlalu Gus! Nikmat Gus! Gila Gus. Jempolnya udah digantiin jari lain…, gilaa, Uhh aku sampai puncak!”.
Mbak In bergerak liar, akibatnya penisku terlepas. Tapi dia tidak mempedulikan penisku lagi, soalnya jemari Susi terus memburu, menggarap clitoris dan anus. Akhirnya Mbak In terkulai setelah menjerit, “Akuuuuuuu!”. Aku sendiri segera mengocok penisku. Tidak sampai semenit penisku sudah mendidih dan siap muncrat. Dengan segera aku bangkit, memiringkan badan, dan mengarahkan penisku ke wajah Mbak In yang tergolek kelelahan dengan nafas terengah-engah. “Cratttt.., tes.., tes..”, Air maniku menyiram wajah Mbak In yang siang ini tampak cantik sekali. Kena pipinya, hidungnya, bibirnya, bahkan matanya. Itulah salah satu petualangan seks-ku dengan Mbak Indriani….

Recent search terms:

  • ngentot sama mbak