Cerita Dewasa sex tante bugil Gaya Kuda

Posted on

Cerita Dewasa sex tante bugil Gaya Kuda

 cerita nafsu sex ngentot istri, wanita selingkuhan dan tante janda hot khusus jauh dari kegembiraan. Pertimbanganku buat menentukan kost di lokasi itu ialah di sisi nilainya ekonomis, saya pula berambisi bisa menjauhi bisikan kegembiraan yang disodorkan kota S itu. Maklum misiku ke kota S ini ialah buat mengambil ilmu untuk era depan. acap kali orang tuaku menyuruhku biar hidup benguk.. karna mereka juga mesti hidup benguk untuk menyekolahkanku.

 

atas menentukan lokasi itu rasanya saya telah mencoba memadati desakan orang tuaku, ialah biar hidup benguk. akan tetapi nyatanya kodrat membawaku lain serta melenceng dari tujuan awal ini.

telah dua tahun saya kost di kawasan itu, alhasil saya telah ingat bagus atas segala populasi ahli desa itu. saya telah diduga selaku penduduk karna kesupelanku dalam berbaur. Nah dari kesupelanku itulah saya telah terbiasa berbual atas tiap masyarakat dari anak minim sampai nenek-nenek.

sesuatu hari pada ketika liburan semester, saya bercokol di lokasi kost seorang diri karna benar saya enggak berbalik maklum saya aktif di aksi kampus. durasi itu lagi masa gersang alhasil melimpah perigi masyarakat yang kering, cuma perigi di lokasi kost ku itulah yang lagi cukup melimpah airnya alhasil melimpah tetangga yang turut meminta air serta terlebih turut mandi di kost-ku. serta diantara mereka terdapat satu tetanggaku yang durasi itu umurnya boleh jadi cuma terkait 7 ataupun 8 tahun di atasku, namanya bibi Nina (alias). Perawakannya lagi enggak sedemikian itu tinggi (tingginya sekeliling 158 – 160 centimeter), tapi bodynya enggak bertekuk lutut atas pesenam aerobik lah. Kulitnya sawo matang eksklusif perempuan Jawa serta wajahnya manis sekali, terpenting pada ketika mesem.. aduh makk!

beliau telah memiliki suami serta dua orang anak yang lagi minim yang pada ketika itu umurnya anyar 4 serta 2 tahunan. beliau berdagang muatan-muatan kelontong di dekat kost-ku. Nah sesuatu hari.. serupa lazim pagi pagi sekali bibi Nina ketok-ketok pintu lokasi kost ku.. lazim ingin boncengan ambil air serta sekalian mandi.
“Dik.. Dik.. cepet bantu bukain pintunya! ” beliau berdengking kira-kira tidak sabaran.
“Iya membegari bibi.. ” jawabku dengan sebelah mengantuk.
“Kok lamban sangat to Dik.. ” suaranya dapat didengar tidak adem.
“Ada apa sih bibi kok enggak adem sekali? ” tanyaku ketika kubuka pintu untuknya.
Wajahnya tampak bermuka masam menahan suatu. Rupanya beliau telah melilit serta akan campakkan desakan dari mulanya.
“Anu Dik.. saya sakit perut nih” tuturnya kira-kira malu.
sedemikian itu pintu terbuka beliau langsung kabur terbirit-birit masuk kilometer serta mencampakkan pintu. Rupanya si bobot telah nyaris pergi.. pikirku.
“Sorry betul Dik.. mulanya bibi nggedor-nggedor”, tuturnya.
“Habis perut bibi udah melilit serta di rumah enggak terdapat air.. itu loh bapaknya kanak-kanak semalam tidak berbalik jadi bibi belum luang ngisi air di rumah.. maafin bibi ya”.
“Ah tidak apa-apa kenapa bibi, aku justru mesti akseptabel kasih udah dibangunin serupa bibi. ”

dari itu hubunganku atas bibi Nina jadi imbuh dekat. sampai pada sesuatu siang, saya ingat hari Kamis, bibi Nina hadir ke lokasi kostku. Siang itu beliau terlihat manis sekali atas mengenakan blus baju tangan jauh corak krem kencang yang mengecap badannya.
“Eh Dik Baim.. hari ini terdapat kegiatan tidak? ” tanyanya sedemikian itu kutemui di teras depan.
“Mm.. kayaknya tidak bibi.. benar terdapat apa bibi? ” tanyaku kira-kira penasaran.
“Anu Dik.. bila enggak terlalu berat belakang adik bibi ajak pergi ke Gml mencari bapaknya kanak-kanak, Dik Baim tidak terlalu berat kan? ”
“Lho memangnya abang Gun disana di rumah siapa bibi? ” tanyaku kian penasaran.
“Anu Dik.. tuturnya banyak orang abang Gun telah memiliki bini abuan di situ.. jadi bibi mau melabrak.. tetapi bibi nggak berani seorang diri.. jadi bibi minta bantu Dik Baim nganter bibi ke sana”.
“Baiklah bibi.. tetapi aku tidak ingin turut aduk atas hal bibi lho” kataku bersedia dan menerima permintaannya.

Sorenya kita empat mata atas sepeda motor punya bibi Nina berboncengan kearah Gml, + 27 kilometer sisi utara kota S arah ke Pwd. bibi Nina membawa satu buah tas yang cukup besar. saya jadi berprasangka, tapi konsisten bungkam aja.. modalnya wait and see lah prinsipku. kita tidak melimpah cakap ketika dalam ekspedisi. sampai sehabis hingga ke Gml saya anyar bersoal posisi rumahnya.
“Oh.. itu.. itu lagi lalu ke utara Dik.. ” jawabnya kira-kira tergagap.
Kecurigaanku kian lanjut tapi konsisten bungkam aja dengan kuikuti permainannya.
“I’ll follow the game” sedemikian itu pikirku, toh enggak terdapat ruginya atas perempuan yang cukup menarik ini.

kita lalu ke utara sampai hingga ke lokasi dimana ada gaba-gaba bertuliskan “Obyek darmawisata Gn Kmks”.
“Lho kenapa ke sini to bibi.. apa tidak kelewatan? ” Tanyaku kira-kira bimbang.
“Anu.. anu sesungguhnya bibi enggak mencari abang Gun kenapa Dik.. tetapi bibi mau kunjungan ke sini.. ” Jawabnya kira-kira cemas bila saya marah.
saya belas pula melihatnya ketika itu yang sedemikian itu kebimbangan. saya hanya menghela napas.. tetapi enggak terdapat ruginya kenapa bagiku. Toh bibi Nina orangnya cukup manis serta menarik jadi lama berapit dengannya pula enggak cedera pikirku menghibur diri.

kecil riwayat saya serta bibi Nina membuntuti ritual yang mesti dijalani di situ. nyatanya enggak cuma kita empat mata yang terdapat di situ. Ratusan terlebih boleh jadi ribuan orang hadir ke situ petang itu. segalanya memiliki tujuan yang serupa “Berziarah” (ataupun berzinah agaknya lebih persisnya). Soalnya yang saya tangkap (suara) bila berkunjung ke situ buat mencari bantuan mesti dobel yang enggak suami-istri serta mesti “Tidur” bersama-sama di sekeliling cungkup (kober) yang terdapat di situ. (boleh jadi ini ritual mencari kekayaan yang setidaknya nikmat di bumi.. he.. he.. he)!

sehabis membuntuti bermacam ritual serta ambalan, selesailah telah kegiatan harap bantuan. kini bercokol ‘finishing’-nya, ialah tidur bersama-sama! saya seorang diri jadi panas dingin menggambarkan saya mesti tidur atas seseorang perempuan! abnormal.. ini amat pengetahuan pertama bagiku. sama tua baya belum sempat berapit atas perempuan.. lagi pula mesti tidur bersama-sama! serta tuturnya mesti 7 kali malam Jum’at berendeng juga! abnormal! amat darmawisata abnormal.. asyiik!
“Eh Dik Baim telah memiliki kekasih belum? ” pertanyaan bibi Nina membagi keheningan.
“Eh.. milimeter. anu.. bbel.. belum bibi ” jawabku kira-kira tergagap soalnya lagi ngelamun yang lain lagian pikiranku lagi bimbang.
bibi Nina boleh jadi ingat apa yang kurasakan jadi beliau hanya bungkam aja serta menggandengku mencari lokasi buat mengadakan karpet (Rupanya bibi Nina telah menyiapkan segalanya dari rumahnya.. sontoloyo makiku dalam batin, tetapi saya pula suka pula menggambarkan ingin tidur atas perempuan semanis bibi Nina ini).

Rupanya mencari lokasi yang “Sesuai” (dalam arti antap serta elok) di sekeliling cungkup pada malam itu sulit pula. saya yang anyar kali itu mendatangi Gn Kmks ganjil sekali atas pandangan yang kulihat disana. enggak jamal alamnya yang kukagumi, tapi sedemikian itu banyaknya pasangan yang memadati tempat sekeliling cungkup kolam ikan bandeng dijajar-jajar. Gilanya segala boleh jadi enggak pasangan suami-istri yang absah (bila bisa kukatakan ini namanya “Perzinahan masal” bukannya “Perziarahan masal”). Cukup lamban kita mencari lokasi buat berkemah di lokasi terbuka. Rupanya malam Jum’at Pon ini ialah hari “Raya”-nya Gn Kmks. Ramainya boleh jadi justru melampaui kegembiraan di Kota S. serta segala pasangan itu berkenan “Tidur” bersama-sama di lokasi terbuka berjajar-jajar tanpa bidai beking yang mewatasi privasi atas pasangan lain di sebelahnya. akibatnya sehabis cukup lamban berkelintaran melampaui jalur selangkah dan gelap serta di kanan-kirinya bergeletakan pasangan yang lagi melaksanakan “Laku” tidur bersama-sama, kita mendapatkan lokasi yang kita kira ’sesuai’ buat kita.

“Disini aja Dik Baim.. tempatnya lagi longgar” tutur bibi Nina dengan melepaskan gandengannya serta mulai mengadakan karpet yang dibawanya. Di sisi kanan serta kiriku terdapat juga pasangan yang telah lebih-lebih dulu menaiki lahan mereka. Jadi saya serta bibi Nina termasuk hadir kira-kira kasep. sehabis adat sejenak atas tetangga kanan-kiri kita juga rebahan dengan berpelukan dalam gelap di lokasi terbuka lagi.

 

saya yang lagi banal tidak ingat mesti melakukan apa. Soalnya seumur-umur anyar kali inilah saya melekap seseorang perempuan berumur. Tanganku bungkam aja sementara degup jantungku tidak rutin. bibi Sum yang awal cuma melekap, beroncet-roncet bersilir-silir mulai mengelus dadaku salah satu pahanya ditumpangkannya di berdasarkan pahaku. kas aja batang kemaluanku memadat.. tetapi saya tidak berani melakukan apa-apa. ketika itu kurasakan bila badan komponen bawah bibi Nina terbungkus sarung, karna salah satu pahanya mengepres pahaku.

Napasku kian berburu serta jantungku berdampung bertambah keras ketika beliau mulai mencoba-coba puting dadaku.
“Dik boncengan masuk sarung saja kendati hangat” bisiknya ayal seakan cemas dapat didengar pasangan yang terdapat di sisi kita.
“Ba.. bagus bibi.. ” Jawabku pula ayal.
kemudian atas hati-hati sekali saya mulai turut memuatkan badan komponen bawahku ke sarung yang digunakan bibi Nina. Jadi kini satu sarung empat mata.. !

saya amat kaget ketika badan komponen bawahku masuk ke dalam sarung. nyatanya bibi Nina enggak mengenakan selembar ain juga pada badan komponen bawahnya. Celana jauh yang mulanya dipakainya sekaligus celana dalamnya rupanya telah dilepaskannya dengan cara berselindung ketika memakai sarung mulanya. saya jadi serba-serbi salah, ingin debar tidak berani ingin bungkam kenapa serupa ini.. ! Batang kemaluanku yang dari mulanya telah keras jadi kian keras berbalik muka dalam celanaku. lagi pula tanpa bisa kucegah tangan bibi Nina mulai mencoba-coba batang kemaluanku dari luar celanaku. Napasku bertambah berburu memperoleh perlakuan serupa itu.

“Ayoo.. pegang dada bibi.. Dik.. ” kisik bibi Nina atas napas yang pula telah mulai berburu.
saya atas terdesak (karna tak tangguh menahan napsu..) mulai memobilisasi tanganku serta mencoba-coba dada bibi Nina dari luar gaunnya.. Kurasakan dadanya sedemikian itu sekal serta alot.. boleh jadi segala perempuan sedemikian itu kali betul.. Napas kita kian berburu tangan kita saling menyentuh dalam gelap.. (boleh jadi.. ini yang dimaksudkan atas adagium ’sedikit cakap melimpah bekerja’ kali betul.. ? pinter pula tuh orang yang buat adagium ini.. ataupun boleh jadi beliau nemu adagium gini ketika lagi begituan kali!)

Napasku seakan kandas ketika sontak batang kemaluanku telah digenggam bibi Nina serta dielus-elus atas lembutnya.. luar lazim.. amat pengetahuan terhebat yang sempat saya rasakan ketika itu! Tubuhku biang biut menahan nikmat yang tidak tara ketika tangan lembut bibi Nina memecal serta meremas batang kemaluanku.. kedua bulir pelirku juga dielusnya atas kancap kasih cinta.. aduh makk!

“Tante.. ahkk.. ” bisikku perlahan tanpa berani berbicara keras-keras..
“Masukkan tanganmu Dik.. memerah buah dada bibi.. ayoo.. ” kisik bibi Sum yang menyadarkanku.

sesungguhnya tanpa disuruh juga saya telah mau menyentuh langsung busut memukau itu. lekas atas antusias 45 (Ini kan jamannya tujuh-belas Agustusan) kolam pejuang anda dulu, saya menyelinapkan menyelundupkan tanganku ke dalam baju ketatnya dari komponen bawah serta mulai membikin-bikin busut alot di dada bibi Nina. Tanganku lalu menyentuh serta beranjak buas di dalam busur bibi Nina serta terpeganglah apa yang kudaTante an. Kusibak BH yang lagi melekat serta tanganku beranjak buas di kembali BH itu. sedemikian itu benci rasanya saya meremas serta menyentuh (boso jowone “Ngowol”) kedua busut sebandung itu bergantian.

“Och.. aspal.. terushh.. Dikk.. ouch.. ” Kudengar bibi Sum berbisik ayal sekali ditelingaku atas napas yang kian berburu.
“Ayo lepaskan celanamu itu Dik.. ” bisiknya lagi.

atas batin berdampung keras menggambarkan apa yang bakal berlangsung kuturuti desakan bibi Nina. Kuhentikan aktivitasku di dada bibi Nina serta melepaskan celanaku ayal sekali. Soalnya cemas kedapatan tetangga di sebelahku, yang luang kulirik mereka pula lagi krusak-krusuk seorang diri dalam gelap. saya ingat itu dari bahana kain yang bergeser-geser. sehabis melepaskan celanaku serta menyimpannya di tas bibi Nina saya mulai berkegiatan lagi.. serta bibi Nina pula. kita saling menyentuh lagi. Batang kemaluanku yang telah amat keras (dalam bahasa Jawanya ‘ngaceng berat’) diurut serta diremas atas halus oleh bibi Sum.. melahirkan rasa jijik yang luar lazim.. saya luang tidak dapat bernapas merasakan keadaan ini..

Tanganku juga kini mulai berani beranjak seorang diri. Sasaranku kini ialah komponen bawah bibi Nina. Dari perutnya yang telah kira-kira besar perut sedikit tanganku beralih turun serta tersentuhlah bongkahan rambut bergelintin di selangkangan bibi Nina.

“Terushh.. Dikk.. hhkk, betul.. itt.. itu.. ” kisik bibi Nina dengan lalu berjolak bolongan telingaku.

Tanganku lalu menelusuri antara antara di lagi lindungan rambut itu yang telah berair serta panas. antara itu kurasakan sedemikian itu licin serta berair.. kemudian atas rasa mau ingat.. kumasukkan jemari ku di tengah-tengah antara ketang itu. saya terkejut.. karna sontak jariku seakan terhirup serta tersorong oleh aksi antara di selangkangan bibi Nina itu. atas dorongan hati alamiah tanganku mulai menyentuh serta meng’obok-obok’ selangkangan bibi Nina yang kian berair. (Jadi enggak hanya Yoshua yang dapat ‘ngobok-obok’ saya pula dapat kenapa! Hayoo siapa diantara pembaca (wanita pastinya) yang ingin di ‘obok-obok’ silakan memasok e-mail!)

bibi Nina kian kelimpungan ketika jari-jariku yang bandel mulai menaiki gohong hangat serta berair di selangkangan bibi Nina. Jariku lalu beranjak masuk ke celah-celah hangat serta licin itu sampai hingga akar.. atas lekas kuhentak anjur pergi.. srett.. bibi Nina nyaris berkoar bila enggak lekas mengerkah leherku ketika kutarik jariku atas lekas dari kuncian gohong kemaluannya. kemudian perlahan kudorong jariku masuk dalam kuncian afeksi gohong abaimana bibi Nina, kutarik lagi lekas serta kodorong perlahan.. sedemikian itu lalu kulakukan iteratif balik sampai akibatnya bibi Nina berkelejat serta badannya seakan tertarik tercabut.

“Ohk.. shh.. akhh” kisik bibi Nina dengan lalu mengerkah keras leherku.
karna kukira bibi Nina merintih kesakitan, impulsif kuhentikan aksi jariku.

“Terush.. Dikk.. aspal.. ouch.. ” rintihnya ayal sekali ketika kuhentikan aksi jariku di gohong hangat diselangkangannya yang kian licin oleh cairan pekat yang pergi dari gohong kemaluannya.
mengikuti permintaannya, spontan jariku mulai beranjak kian buas di dalam afeksi gohong abaimana bibi Nina yang kian beringus serta licin. badannya mengeluk melontai kelok serta tertarik tercabut berkejat-kejat seperjalanan atas gerakanku. Gerakannya kian lama-semakin kecil serta berakhir.. jariku konsisten tercapit afeksi gohong kemaluannya, kemudian kedua tangan bibi Nina menggenggam kedua pipiku serta diciumnya bibirku atas sebati sekali.

“Kamu cerdas Dik.. ” bisiknya sebati.
“Tante rasanya seakan melambung tadi”
“Kukira mulanya bibi Nina kesakitan.. sebab itu kuhentikan gerakanku” bisikku
“Enggak.. bibi enggak sakit kenapa.. malah nikmat sekali.. ” bisiknya aleman.
“Sekarang kendati bibi yang gantian melegakan kamu” balasnya.

setelah itu atas ayal, karna cemas kedapatan pasangan di sisi (Yang saya benar-benar percaya pula lagi melaksanakan keadaan yang serupa atas kita!) bibi Nina mulai menaiki tubuhku. Dikangkangkannya kakinya serta dipegangnya batang kemaluanku yang telah ngaceng berat serupa meriamnya pak angkatan yang sedia menggempur GAM. kemudian digesek-gesekkannya palkonku (kepala kontol ‘palkon’) di antara hangat di selangkangannya yang telah amat licin serta berair.

“Hkk.. ” napasku seakan kandas ketika batang kemaluanku mulai tercapit akrab dalam afeksi gohong abaimana bibi Nina.
kehebohan terhebat dalam hidupku! serta agaknya inilah dahulu asal usul lenyapnya keperjakaanku! Yang berikutnya bakal mengubah kehidupanku! (bakal kuceritakan mendatang).

atas ayal tapi tentu.. alon-alon asal kelakon.. batang kemaluanku mulai melatis masuk dalam kuncian afeksi gohong abaimana bibi Nina. Mataku terbelalak menahan nikmat yang tidak tara.. (boleh jadi inilah yang namanya sorga bumi betul?).

“Tante.. ” bisikku di kuping bibi Nina, “Geli bibi k”
“Hushh.. bungkam aja nikmati saja” meladeni bibi Nina sebati.
saya mengerkah bingkai menahan nikmat yang tidak tara. bibi Nina lalu berkutat di berdasarkan perutku, berayun serta berkeliling ayal. sampai akibatnya semua batang kemaluanku terhirup dalam afeksi gohong abaimana bibi Nina. semua batang kemaluanku masuk hingga ke pangkalnya hingga kurasakan palkonku menumbuk suatu di dalam situ. bibi Nina juga boleh jadi merasakan keadaan yang serupa denganku, kutahu itu dari napasnya yang tersengal-sengal.

Gesekan untuk gesekan dari kedua abaimana kita memanaskan dinginnya malam di Gn Kmks itu. kita telah enggak acuh lagi atas pasangan-pasangan lain di sekeliling kita. Yang kita ingat ialah gimana mereguk nikmat serta menangani ambisi yang telah nyaris mendekati klimaksnya.

bibi Nina lalu beranjak ayal. berangsur-angsur gerakannya telah mulai enggak rutin serta kurasakan bibi Sum mengerkah leherku lagi. saya juga nyaris aja berdengking menahan suatu yang nyaris meledak dari dalam diriku. Kurasakan desakan kian tangguh mengehentak komponen bawah perutku.

aksi bibi Nina kian enggak rutin serta gigitannya kian cepat.
“Ouchkk.. Dikk.. bibi mau kaku.. arrghh” bisiknya dengan badannya mengejat-ngejat di berdasarkan perutku.
Akupun barangkali enggak bisa lagi menahan desakan yang menghentak serta akibatnya tanpa bisa kupertahankan jebollah telah pertahananku. Crrt.. crett.. crett.. crett.. crett.. keluarlah awan panas panas dari pucuk palkonku yang mandi serta menyiram kandungan bibi Nina. Tubuhku seakan melayang serta terhentak serupa terhantam arus listrik. Kurasakan klimaks kehebohan bersetubuh yang ruarr lazim.. Tanganku mencengkeram gumpalan birit bibi Nina yang lagi aja beranjak buas buat menguji menghentikannya. tapi kian akrab kutahan kian buas gerakannya sampai saya berserah aja serta menikmati kehebohan semampuku.
“Tante sud.. telah.. bibi.. ohh” bisikku di telinganya.
Rupanya ketika saya mendekati orgasme mulanya bibi Nina pula lagi mendekati orgasme alhasil susah kuhentikan gerakannya.

“Kamu hebat Dikk.. ” bisiknya sebati sekali.
“Tante puas sekali.. ”
kita lagi lalu berpelukan sebagian ketika. bibi Nina lagi menindihku serta batang kemaluanku lagi akrab tercapit dalam gohong kemaluannya. serta dengan cara perlahan-lahan kurasakan batang kemaluanku mulai tersorong pergi dampak peregangan gohong kemaluannya.. kemudian badan kita sama-sama tertarik tercabut ketika batang kemaluanku terkupas seorang diri dari kuncian gohong kemaluannya. kita saling bertimbang pandang sebati serta mesem.. Duh manisnya bibi Nina bila mesem (saya membatin jika aja bibi Nina ini jadi istriku alangkah baiknya saya).

“Tante aku kenapa jadi cinta sekali serupa bibi ”.. bisikku sebati.
“Tante juga kenapa Dik.. ” balasnya.
“Nanti anda pulangnya singgah dulu rehat di hostel di depan stasiun Blp.. ingin kan? ” lanjutnya.
“Mau dong.. era ingin menyangkal rejeki” jawabku bandel.
“Memang abang Gun tidak marah? ” tanyaku.
“Enggak kenapa.. justru beliau yang nyuruh saya buat ke sini melaksanakan ritual.. malahan beliau yang memilihkan pasangannya.. betul Dik Baim itu” jawabnya bebas.
(bedebah gerutuku dalam batin. Rupanya saya ingin dijadikan tolak bala pesugihannya! tetapi biarin dah, yang pokok nikmatt). Mulai detik itu saya berakad dalam batin bakal mengerjai istrinya mati-matian berdasarkan keputusannya menjadikanku selaku tolak bala pesugihannya. serta janjiku bakal kubuktikan sesaat lagi.

Pagi sekali, kurang lebih jam 04. 00 pagi satu masing-masing satu pasangan yang sudah melaksanakan laris abnormal ini mulai beranjak berbalik. kita juga turut berbalik ke lokasi kita. Dinginnya udara pagi tidak kurasakan, karna bibi Nina yang kubonceng melekap akrab tubuhku sepanjang ekspedisi. Tubuhku jadi hangat lagi pula dada bibi Nina yang alot menekan akrab punggungku. Kupacu kendaraanku kencang-kencang cemas terlalu siang. Sementara bibi Nina konsisten akrab memelukku serta tangannya tidak tertinggal dimasukkan ke dalam celanaku serta memijit-mijit batang kemaluanku sepanjang ekspedisi itu. memperoleh perlakuan itu, pasti aja adik kecilku bangun berdiri serta berbalik muka seakan akan melatis pergi dari sarangnya. Remasan serta dekapan bibi Nina membuatku melalaikan dinginnya udara pagi serta lamanya ekspedisi dari Gml ke kota S yang kurang lebih sejauh 30 kilometer itu.

antara sebelah jam setelah itu kita juga hingga ke kota S, serta kita juga menuju kawasan sekeliling stasiun Blp buat mencari hotel yang “Sesuai” (antap serta asoy). sehabis berpusar sebagian ketika, kita juga mendapatkan satu buah hostel yang cukup bersih serta letaknya kira-kira laten. kita menentukan kamar yang memiliki kamar mandi di dalam biar privasi kita lebih terawat.

sehabis check in saya langsung masuk kamar mandi serta mulai membuka semua pakaianku buat mandi. Sementara itu bibi Nina langsung berbaring dengan melihat kegiatan televisi pagi. lagi asyik-asyiknya menyabuni sontak bibi Nina masuk kamar mandi serta telah bugil bundar tanpa selembar benangpun yang melingkupi badannya yang bagus itu. saya terpana serta tanpa siuman memblokir kegiatanku. Mulutku melongo menyaksikan pandangan yang amat bagus buat dilewatkan sedemikian itu aja. betul.. meskipun kita sempat bersetubuh, tapi saya belum sempat memandang semua badannya sejelas ini. mulanya malam kita bersetubuh dalam gelap serta itu juga kita lagi terbalut busana berdasarkan kita per.

amat luar lazim pandangan yang terbambang di hadapanku ini. meskipun perutnya kira-kira berlemak, akan tetapi jamal badan bibi Nina lagi amat mempesona. Kulitnya yang eksklusif perempuan Jawa berona sawo matang kelihatan bagus tanpa cacat. Rambutnya yang hitam lurus, sebahu panjangnya kelihatan bagus berburai. serta payudaranya yang lagi cukup cepat bergantung bagus atas puting yang mencuat kecoklatan. Sedikit turun ke bawah bulu-bulu hitam berkeluk-keluk memadati buncak busut minim di bawah perutnya. Luar lazim! saya hingga melongo dibuatnya. Apalgi badannya tersorot lampu neon dari kamar tidur serta dari kamar mandi sekalian..

“Lho.. kenapa mandinya berakhir? ” pertanyaan bibi Nina mengejutkanku sampai membuatku gelagapan.
“Eh.. anu.. eh.. bibi.. kenapa ma.. masuk kesini bibi? ” tanyaku bengap serta spontan tanganku melingkupi batang kemaluanku yang telah kancap sabun batangan.
“Kenapa emangnya? Apa tidak bisa mandi bareng-bareng? ” tuturnya bebas lalu dimintanya sabun batangan yang lagi kupegang.
“Sini bibi mandiin kendati bersih! ”.

saya juga mandah aja serta kunikmati belaian tangan bibi Nina yang menyabun semua tubuhku. Digosoknya punggungku atas sabun batangan lalu ke bawah sampai pantatku juga tidak kurang ingat digosok-gosoknya. saya memejamkan arik menikmati remasan tangan bibi Nina di kedua bagian buah pantatku.
“Hayo.. kini depannya.. ” sontak bibi Nina menyuruhku buat menghadapinya.
Tangannya menghapus leherku lalu ke bawah serta sebagian ketika memainkan jarinya di kedua tetekku bergantian. saya menahan napas kala tangannya lalu berkerumun ke bawah serta mulai menyabuni selangkanganku. Diremasnya batang kemaluanku atas halus. kas adik kecilku tersadar serta memadat mendadak.

“Lho.. kenapa lalu cepat? ” gurauan bibi Nina untuk memandang batang kemaluanku berdiri berdiri kolam petarung yang sedia adu. saya jadi jengah serta sedikit malu.
“Iya soalnya beliau ingat terdapat rival mendekat” balasku buat menyirnakan kekakuan.
“Dia ingat sesaat lagi ingin disuruh kegiatan.. he.. he.. he! ” gurauku.
“Ah maunya.. ! ” bibi Nina memoncongkan bibirnya.
saya yang telah amat terangsang atas belaian serta remasan tangannya di selangkanganku langsung aja memeluknya serta tanpa ba Bi ibu lagi kusergap bibirnya yangs lagi congor itu. Kupeluk badan telanjangnya serta atas buas kucium bibirnya.
“Mphhf.. ” bibi Nina gelagapan ketika bibirnya kuserobot serta tanganku akrab memeluknya.
dengan lalu menciumnya tanganku atas beraninya berkeliaran mengelus punggung bibi Nina serta lalu ke bawah ke arah gumpalan pantatnya yang beku. Kuremas kedua bekah buah pantatnya bergantian.
“Dikk.. ohh” bibi Nina hanya dapat melenguh serta menggelinjang dalam dekapanku.
Tangannya kian buas memecal serta meremas batang kemaluanku. saya seorang diri enggak perduli bila tubuhku lagi kancap atas busa sabun batangan serta bau keringat bibi Nina yang belum mandi dari kita bersetubuh semalam.
“Dik.. bibi.. bibi be.. belum mandi.. ” napas bibi Nina tersengal-sengal ketika atas ganasnya kuciumi lehernya.
“Biar bibi mandi dulu.. ughh” bibi Nina melenguh meminta kulepaskan.
boleh jadi beliau risih atas bau keringatnya seorang diri. kemudian kulepaskan pelukanku. Kusiram badan bibi Nina atas air dingin.

“Sini bibi biar gantian ku mandiin” kuraih sabun batangan yang dipegangnya.
kemudian kembali badan bibi Nina serta kusabun punggungya. Kugosok komponen punggungnya serta tanganku yang bandel beralih lalu ke bawah. sedemikian itu tanganku mengenai komponen pantatnya yang beku tanganku mulai meremas atas benci. Kuelus serta kugosok ke dua bekah gumpalan birit bibi Nina. sehabis senang beracah-acah atas pantatnya, tanganku mulai menyabun badan bibi Nina komponen depan. akan tetapi ketika itu posisiku lagi dibelakang bibi Nina, jadi tanganku menyikat komponen depannya dengan memeluknya dari belakang. Saking ketatnya pelukanku, badan komponen bawah kita saling melekat kencang. Batang kemaluanku yang telah amat keras terhimpit antara gumpalan birit bibi Nina atas perutku seorang diri. (Pembaca dapat bayangin gimana rasannya). Luar lazim! lagi pula birit bibi Nina serta batang kemaluanku amat licin karna kancap busa sabun batangan. Rasanya syurr.. lagi pula bibi Nina berencana menggoyang-goyangkan pantatnya sampai batang kemaluanku tergesek-gesek. Nikmatt!

Kedua tangan bibi Nina diangkat ke berdasarkan kepalanya seakan membiarkanku buat kian gampang menyikat kedua payudaranya dari belakang. Sementara pantatnya yang menekan batang kemaluanku sebentar-sebentar digoyang. saya kian terangsang hebat atas perlakuannya itu. kemudian tanganku kugeser ke arah selangkangannya. Kugosok buncak busut minim di selangkangan bibi Nina yang rimbun atas rambut. Kusabun serta buncak busut itu atas arah dari berdasarkan ke bawah membuntuti ceruk antara hangat di selangkangan bibi Nina.

“Ouchh.. aspal.. rushh Diikk” kini bibi Nina telah berani berbicara kira-kira keras karna kita cuma empat mata.
enggak serupa kondisi semalam dimana kita cuma dapat berkusu-kusu cemas kedapatan pasangan lain. saya kian antusias beracah-acah atas busut minim di selangkangannya. Tanganku yang cemburu sekali-sekali menusuk masuk ke antara hangat diselangkangannya. keadaan ini membikin bibi Nina kian buas memobilisasi pantatnya. akhirnya saya seorang diri yang melenguh kenikmatan karna batang kemaluanku terhimpit pantatnya yang licin.

“Akhh.. terr.. ushh.. ” bibi Nina kian buas menggumam tidak pasti ketika kukorek-korek gohong kemaluannya atas jariku.
Kumainkan jariku di dalam gohong abaimana bibi Nina. serta bibi Nina kian meronta serta menggelinjang ketika jariku memainkan serta menyikat benjolan daging minim dalam gohong kemaluannya. Kepalanya melengak ke berdasarkan serta mulutnya sebelah terbuka menahan nikmat. Kugosok lalu serta sesekali kutarik benjolan daging itu.
“Terush.. Dikk.. ohh.. aspal.. ruushh” bibi Nina lalu menceracau. serta atas diakhiri lenguhan jauh sontak badannya menegang.. , kepalanya terhentak serta badannya mengeluk melontai. boleh jadi beliau mendekati orgasme ketika kumainkan benjolan daging di selangkangannya.

setelah itu sehabis sebagian ketika beliau bengong serta matanya terkatup seakan menikmati kehebohan yang anyar aja dirasakannya. sehabis napasnya mulai rutin diraihnya batil serta disiraminya badannya serta tubuhku atas air. dengan membanjur sisa busa sabun batangan di tubuhku tangannya mengelus serta memecal batang kemaluanku yang telah amat cepat (Ngaceng mati-matian!).

“Dik.. anda berbaring aja di dek kendati bibi yang service sekarang” disuruhnya saya berbaring di dek kamar mandi.
saya juga berdasarkan aja apa maunya. Kubaringkan tubuhku di dek kamar mandi yang dingin, saya ketika itu berbaring dengan berdiri pembaca! Bayangkan berbaring dengan berdiri! saya benar berbaring.. tetapi adik kecilku berdiri berdiri menunjuk lelangit kamar mandi!

sehabis saya berbaring, bibi Nina merangkak di berdasarkan tubuhku. beliau bersandar di berdasarkan perutku serta mulai mengesun keningku. saya mengatupkan mata merasakan kehebohan luar lazim. Antara napsu serta cinta. Napsu soalnya selangkangan bibi Nina yang hangat melekat kencang di berdasarkan perutku serta batang kemaluanku melekat pantatnya. cinta karna saya seakan lagi dimanja. betul saya lagi dimanja karna saya enggak diperbolehkan beranjak serta disuruh menikmati layanan keseluruhan yang akan diberikannya padaku. Dari keningku perlahan-lahan bibirnya beranjak turun serta mulai menjilati telingaku kanan serta kiri bergantian. Rasa jijik yang luar lazim menerpaku ketika lidah bibi Nina menyapu-nyapu bolongan telingaku.
“Akhh.. Mbaak.. ” bisikku sebati.

badannya lalu beralih ke bawah ketika bingkai bibi Nina beranjak turun ke bibirku. kita saling memagut serta sorong mendorong lidah. saya yang belum profesional turut aja permainan yang dikasihkan bibi Nina. Lidahnya menyapu-nyapu lidahku serta kusedot kencang-kencang lidah bibi Nina. akhirnya badan komponen bawahnya yang kini mengepres batang kemaluanku kian kencang menekanku. Rasa hangat menyebar dari batang kemaluanku yang tercapit buncak busut di selangkangan bibi Nina yang kurasakan kian licin.

Sementara bingkai kita saling berangkulan, abaimana bibi Nina yang memipit kemaluanku digesek-geseknya atas ayal. balik lagi kurasakan kehebohan luar lazim. alangkah enggak.. meskipun batang kemaluanku belum menaiki lobang yang sebaiknya akan tetapi karna bingkai abaimana bibi Nina telah amat licin jadi kemaluanku yang tercapit di antara bingkai kemaluannya serta perutku seorang diri serupa diurut. Batang kemaluanku mulai bergembut-gembut. Gerakanku telah mulai buas tidak terarah. akan tetapi permainan belum beres! The gim was just begun! Permainan anyar dimulai!

bingkai bibi Nina lalu berjolak semua tubuhku. Leherku telah berair oleh liur bibi Nina. Dari gala bibirnya lalu merangsek ke bawah, kedua puting dadaku juga habis dipermainkan lidahnya. Dari sini bibirnya lalu ke bawah sampai pusarku juga dijilatinya mati-matian. Lagi-lagi kehebohan luar lazim menyerbuku ketika lidah bibi Nina mencakar-cakar pusarku sementara ke dua payudaranya melekat kencang di batang kemaluanku.! Edann.. ! Kali ini batang kemaluanku tercapit di tengah-tengah bagian payudaranya yang alot! kehebohan nikmat kian melambung ketika tanpa bisa kucegah bingkai bibi Nina mulai menciumi batang kemaluanku dari pucuk sampai pangkalnya. Gilaa!

“Upff.. Mbaak.. ” saya sebelah berkoar ketika pucuk kemaluanku serasa tercapit barang hangat!
nyatanya batang kemaluanku lagi dikulum bibi Nina! beliau mengulum batang kemaluanku serupa anak minim yang lagi menjilati ‘magnum’ es krim yang kondang itu! dengan dikocok batang kemaluanku dihisapnya mati-matian! enggak senang berjolak batang kemaluanku, bibi Nina mulai berjolak kantong pelerku (gaber). betul gaberku! (Gaber ialah bahasa Banyumas buat kantung peler – enggak pamannya Donal angsa). Dikuakkannya lipatan gaberku serta dijilatinya dim untuk dim gaberku itu!

Batang kemaluanku kian berdebar cepat. Kocokan tangan bibi Nina pada batang kemaluanku kian cepat. Sekali lagi batang kemaluanku jadi alamat mulut bibi Nina. Dikulumnya lagi batang kemaluanku yang kian berdebar sampai nyaris seberinda masuk ke dalam mulutnya. Mataku kian membeliak menahan suatu yang mendesak dari perut komponen bawahku. saya menguji bertahan atas menguji menggenggam kepala bibi Nina biar bungkam! akan tetapi semaki cepat saya menggenggam kepalanya, kian cepat juga kepalanya berayun sampai batang kemaluanku dikocok-kocok atas mulutnya.

“Aarghh.. ” saya melenguh cepat ketika saya tidak bisa lagi menahan dorongan awan panas yang menyembur pergi dari pucuk kemaluanku!
Crat.. cret.. cret.. crett.. crett nyaris lima kali saya memancarkan air maniku buat yang kedua kalinya hari ini! akan tetapi kali ini saya mengeluarkannya di mulut bibi Nina! Tubuhku bergerak serta mengejat-ngejat. kian kencang kutekan kepala bibi Nina biar batang kemaluanku kian dalam terbenam dalam mulutnya! akhirnya nyaris segala air maniku terhirup olehnya!

“Bagaimana Dik Baim? ” pertanyaan bibi Nina menggodaku, “Enak? ”
“Uf.. luar lazim bibi ” jawabku kira-kira malu serta kancap rasa bersalah karna saya melontarkan air maniku di mulutnya.
“Sorry betul bibi aku.. saya.. kel.. pergi di mulut bibi.. ”
“Enggak apa apa Dik.. ” tutur bibi Nina yang menguji menenangkanku.
“Malah bibi senang dapat bikin jamu.. hik.. hik.. hik”.
“Ayo kini rehat dulu.. ” ajaknya dengan menarikku biar bangun.
sehabis mesterilkan diri serta menjemur badan kita, kamipun berbaring di lokasi tidur dengan melihat TV informasi pagi. kita lagi sama-sama bugil bundar serta berpelukan di lokasi tidur.

boleh jadi karna amat mengantuk serta peroleh sehabis semalam suntuk enggak tidur ditambah pemancaran dua kali membuatku langsung terlelap. saya enggak ingat sudah berapa lamban tertidur dengan melekap badan bugil bibi Nina. saya tersadar ketika badan komponen bawahku kerasa jijik.. perlahan-lahan kubuka mataku serta kulihat bibi Nina lagi menciumi badan komponen bawahku. saya bungkam aja akal-akalan tertidur.. sedangkan sang minim telah bangkit mulai mulanya.

Batang kemaluanku bergembut-gembut ketika semua batang kemaluanku masuk dalam kuluman mulut bibi Nina yang hangat serta berapi-api. Lidahnya yang kasar serta panas menyapu-nyapu pucuk kemaluanku yang membuatku tidak siuman menggelinjang sampai bibi Nina ingat bila saya cuma akal-akalan lagi tidur!

“Rupanya anda bandel betul! ” tuturnya dengan memencet batang kemaluanku yang telah amat keras itu.
“Awas kamu”, ucapnya lagi.
“Adaoww” jeritku aleman.
Rasanya sakit tetapi lezat pula dipencet oleh tangan bibi Nina yang lembut itu! Pembaca tak yakin? (bisa dicoba ntar kuminta bibi Ninaku memencet pembaca yang penasaran! Ha.. ha.. ha).

saya kian menggelinjang kegelian aduk sedikit linu ketika mulut bibi Nina menghirup buah pelerku kencang-kencang. jijik tetapi linu.. linu tetapi jijik.. pembaca dapat bayangin gimana rasanya.. modalnya aduk campur lah.. susah digambarkan atas kata-kata..

sontak bibi Nina membalikkan posisinya.. mulutnya lagi sibuk melumat batang kemaluanku tapi kini badan komponen bawahnya digeser ke berdasarkan alhasil buncak busut di bawah perutnya yang rimbun ditumbuhi bulu hitam kini persisnya terletak di ambang wajahku. Kedua kakinya mencaplok wajahku alhasil nyata kulihat bagian merah duwet enak di tengah-tengah buncak itu. terdapat bau eksklusif seperti bau comek enak melatis bolongan hidungku.. oo.. rupanya serupa inikah bau abaimana perempuan.. serupa bau comek.. orang Korea bilang tuturnya bau Ojingo ataupun bahasa kitanya comek! enak serta sedikit anyir.. gitu!

saya yang anyar kali ini memandang dari dekat rupa abaimana perempuan berumur jadi heran memandang pandangan serupa itu. memahami saya bungkam aja bibi Nina yang tadinya enak menjilati batang kemaluanku berakhir melaksanakan aksinya kemudian diturunkannya pantatnya perlahan alhasil bolongan kemaluannya menekan hidung serta mulutku. saya yang lagi melongo jadi gelagapan karna sontak kemerosotan memek! tepat dimulut serta hidungku lagi! (Pembaca sempat tidak kemerosotan memek? bila belum dapat dicoba perintah saja wanita pembaca ngangkang di berdasarkan serta melaksanakan kelakuan serupa itu! tentu dijamin terkejut tetapi nikmat! Ha.. ha.. ha!)

sedemikian itu gohong abaimana bibi Nina yang telah berair serta panas menekan mulutku spontan tanpa disuruh bibirku memajuh semua larutan yang mandi gohong abaimana bibi Nina.. rasanya.. sedikit kira-kira masin.. Lidahku melatis masuk ke dalam gohong abaimana bibi Nina sampai kepala bibi Nina tercodak serta pantatnya kian menekan wajahku.

“Shh.. terusshh Diikk.. ohh” Lidahku lalu menerobos gohong kemaluannya serta masuk sedalam-dalamnya.
saya kian gelagapan sulit bernapas karna abaimana bibi Nina sedemikian itu kencang menekan mulut serta hidungku. titik berat pantatnya kian kencang ketika badannya biang biut serta berkejat-kejat ketika kusedot benjolan daging di sela-sela gohong kemaluannya. bibi Nina berkoar serta kian tangguh meletakkan pantatnya sampai hidung serta mulutku seakan kikis ditelan gumpalan gohong kemaluannya yang menindihku.

“Upf.. brr.. ! karna tidak kuat sulit bernapas kusembur kencang-kencang gohong kemaluannya sampai melahirkan bahana abnormal seberti kain cabik-cabik. Brrtt.. !
“Ihh.. ” bibi Nina berkoar terkejut berdasarkan kenakalanku itu.
“Awas betul.. entar bibi balas anda.. ” jeritnya aleman.
“Abis.. saya tidak dapat bernapas.. bibi juga sih.. ” balasku tidak bertekuk lutut aleman dengan memijit-mijit gumpalan pantatnya yang sekal atas benci.

bibi Nina juga membalas aksiku mulanya. saat ini disedotnya kuat-kuat bolongan saluran kencingku.. saya luang melambung merasakan kenikmatan yang tidak tara ini. saya juga meladeni lagi kutekan pantatnya serta kudekatkan bingkai kemaluannya ke mulutku serta mulai mlumat bingkai kemaluannya atas benci. balik bibi Nina menggelinjang serta akibatnya tidak kuat seorang diri.

“Oh.. su.. telah diikk.. ! ” desisnya, “Tante sudah tidak tangguh.. ”

kemudian beliau mengganti posisinya. kini kita berhadap-hadapan serta bibi Nina lagi di berdasarkan tubuhku. atas tanggannya batang kemaluanku dicocokkannya ke gohong kemaluannya yang telah amat licin. sehabis persisnya setelah itu ditekannya pantatnya ayal ayal sampai batang kemaluanku mulai melatis afeksi gohong kemaluannya.

saya mengerkah bibirku biar enggak melenguh. sampai bless.. nyaris semua batang kemaluanku terbenam dalam afeksi gohong abaimana bibi Nina. bibi Nina memblokir gerakannya serta kita menikmati jamal saat-saat menyatunya badan kita. kita saling bertatap penglihatan serta mesem sebati. Oh.. betapa mesranya.
“Aku cinta anda Dikk.. ” kisik bibi Nina di telingaku atas sebati.
“Aku pula bibi.. ” balasku tidak bertekuk lutut sebati.
setelah itu bingkai kita saling berangkulan. Lidah kita saling bertaut.

atas ayal bibi Nina mulai goyak pantatnya naik turun di berdasarkan tubuhku. Batang kemaluanku kian cepat tergesek-gesek dalam kuncian gohong kemaluannya. Tanganku tidak bercokol bungkam. Kuremas buah birit bibi Nina atas benci. kian lamban kian lekas bibi Nina goyak pantatnya di berdasarkan tubuhku. Mulutnya tidak henti-hentinya mencicik serta merintih. saya juga mengimbangi gerakannya atas memutar pinggulku membuntuti instingku. bibi Nina kian buas goyak pantatnya serta mulutnya kian cepat merintih.

“Ouch.. terushh.. Diikk.. ” mulutnya lalu merintih.
“Tante mau kell.. oohh.. ” belum habis beliau cakap nyatanya bibi Nina telah hingga ke klimaks pendakiannya.

badannya mengeluk melontai serta berkejat-kejat kolam terhantam gerakan listrik yang azmat. saya juga kian cepat memutar pantatku mengimbangi gerakannya serta tersorong impian buat melegakan ambisi perempuan yang kusayangi ini.

“Kamu.. hebb. bathh.. ” kisik bibi Nina sebati.

sebagian kali beliau menggelepar di berdasarkan tubuhku serta akibatnya badannya roboh di berdasarkan perutku. beliau bengong sebagian ketika. Kubiarkan bibi Nina buat menikmati jamal yang anyar diperolehnya. saya yang telah dua kali mengeluarlan air benih selagi satu malam itu merasa belum apa apa.

sehabis napasnya mulai rutin kubisikkan biar bibi Nina mengganti posisi. kini kuminta bibi Nina telungkup di ranjang serta kujulurkan kedua kakinya ke dek sampai pantatnya yang bagus menjengking di pinggir lokasi tidur. Perutnya kuganjal atas alas sampai posisi menunggingnya kira-kira tinggi. bagus sekali pandangan yang terbambang di hadapanku.

alangkah badan bugil bibi Nina atas pantatnya yang bagus telungkup atas posisi menjengking. Kunikmati pandangan ini sebagian ketika sampai bibi Nina mengomel aleman.

“Ayo.. menunggu apa lagi” beliau mengomel atas aleman.

saya juga menaruh posisiku persisnya di belakangnya. atas berdiri kucocokkan batang kemaluanku ke gohong kemaluannya dari arah belakang. Kugesek-gesek gohong kemaluannya atas kepala batang kemaluanku biar licin. sehabis licin, atas ayal kutekan batang kemaluanku sampai melatis gohong abaimana bibi Nina. sebagian kali kukocok batang kemaluanku sebelum kubenamkan seberinda.

bibi Nina mulai mencicik serta atas ayal mulai goyak pantatnya mengimbangi gerakanku. sehabis sebagian kali kocokan atas sekuatnya kutekan pantatku sampai semua batang kemaluanku kikis ke dalam gohong abaimana bibi Nina.
Kepala bibi Nina tercodak ketika tulang kemaluanku bentrok atas pantatnya. Plok.. plok.. plok dapat didengar bahana beradunya tulang kemaluanku atas pantatnya sampai melahirkan antusiasme tersendiri bagiku. lagi pula mulut bibi Nina balik mencicik serta merintih ketika batang kemaluanku menggojlok gohong kemaluannya. saya kian aktif melajukan serta melambaikan batang kemaluanku dalam kuncian gohong kemaluannya.

Recent search terms:

  • kontolku dikulumbibi